Yang maha tidak pelit

Padahal ya, sudah tau ilmunya. Tapi kenapa manusia kurang ilmu macam saya ini terkadang mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya sudah ada jawabannya *mbulet

Bahwa, Gusti Allah kui ora sare. Maha pemberi, maha pemurah. Hambanya aja aja yang suka ngeyelan, ndagel, mikir yang ndak-ndak

Simpelnya, mau dikasih banyak, mau minta banyak. Tapi pas ngasih ke sesama dikit, pas diminta pelit. Udah gitu berani berprasangka buruk sama sang pencipta, emangnya kastamu lebih tinggi dari Tuhan sampe bisa segitunya?

Mau hidup lebih, ya kudu ngasih lebih juga. Tuhan di otakmu menjadi pelit tak lebih karena kelakuanmu sendiri yang medit.

Ngerti koen?

——–

*episot misuhin diri sendiri pagi-pagi

Razia motor

Rasanya semingguan ini, dua kali ken razia motor. Ya tak mengapa sih, soalnya surat-menyurat saya lengkap, dan alhamdulillah dompet berisi stnk & sim selalu kebawa.

Masalahnya adalah antri saat diperiksa polisi itu. Selain agak lama, motornya pada ngga di matiin, jadi kebayang sore-sore di tengah-tengah kepulan asap knalpot. Nggak enak.

Nah, sore tadi. Ada dua kejadian menarik.

Kejadian pertama.

Di depan saya, ibu-ibu, bawa dua anak. Satu di gendongan depan, masih kecil sekali, usianya entah berapa bulan. Satu lagi di belakang, palingan tiga-empat tahunan. Saat diperiksa, ibunya turun dulu, buka jok motor karena stnk nya ada di bawah jok ternyata.

Agak lama diperiksa mas-maspolisi junior. Saya nguping & ngamatin. Sepertinya SIM nya ga kebawa, ngecek isi dompet tiada dapet. Lalu junior itu lapor sama seniornya.

Pak polisi senior ngomong sesuatu sama juniornya, ga kedengeran. Lalu ngomong lagi sama si ibu. Lagi-lagi ka kedengeran sama sama. Jadi kepo..

Lalu, pak polisi senior ngelus kepala si balita di gendongan, dan si ibu dipersilahkan terus. Sepertinya tak di tilang. Entah kenapa saya setuju dengan tindakan pak polisi itu.

Kejadian kedua.

Di barisan samping saya -karena razia dilakukan di depan polres, jadinya pemeriksaan dibagi menjadi sekitar delapan baris-, ada seorang bapak tua, tak pakai helm, yang dibonceng seorang ibu cukup tua, juga tak pakai helm.

Sekilas pas diperiksa, sepertinya surat-suratnya lengkap. Tapi saat diberitahu akan kesalahannya, pak tua itu ngeyel.

Kata pak polisi senior (yang meriksa ibu bawa balita barusan): ” bapak coba liat yang lain, nggak malu apa?”

Kurang lebih begitu. Eh, si pak tua nyahut dengan nada cukup tinggi:”ngapain saya malu? Buat apa saya malu..”

Kurang lebih seperti itu. Dan polisi junior di dekatnya nyeletuk: ” udah langsung ditilang aja, ndan..”

Entah kenapa saya setuju dengan pendapat si junior. Tapi saya tak tahu kelanjutan ceritanya, karena giliran saya diperiksa kelengkapannya sudah usai.

Malah berharap cerita itu besok muncul di koran. Soalnya sepertinya kegiatan razia besar-besaran barusan juga diliput wartawan.

Ada-ada saja

Mencoba WordPress mobile (lagi)

Kemarin ada masalah saat mau publish, entah kenapa gagal terus. Lalu saya uninstall saja apps-nya.

Barusan saya donlot & instal ulang. Sekarang mau nyoba lagi.

Btw, barusan deactive fb lagi setelah mengaktifkannya kembali dari hiatus setelah nyaris sebulan begitu.Mungkin twitter juga, sebenarnya tiada bedanya ada atau tidak dua benda itu.

Oh, bukan benda.Sudahlah lah. Coba tes publish lagi.

idealisme pernah ada

..waktu sekolah, saya rasanya sangat idealis, paling tidak dalam hal tak mau mencontek sekaligus pelit karena tak mau memberi contekan

Walaupun nyatanya saya memang tak pinter-pinter amat, tapi mikirnya ulangan atau ujian sekolah adalah tanggungjawab masing-masing..

Sampai pernah seorang kawan dongkol saat saya tak mau membantunya saat ujian praktek

Saat kuliah, sudah agak berkurang, selain pelajarannya makin bikin mumet. Saya sudah mau berbagi jawaban saat mood, toh jarang-jarang juga saya bisa menjawab soal ujian dengan baik dan benar..

Sekarang. Apa?

Hanya sedikit saja mungkin idealisme saya yang tersisa. Seperti mengurangi makai software bajakan. Iya mengurangi. Soalnya kadang masih nonton youtube yang sumbernya mbuh. Masih muter mp3 yang dulu hasil donlot entah darimana. Dan segala yang absurd sumbernya di ranah internet.

Lainnya. Soal kerja. Saya masih bertanya pada diri sendiri..

tentang marah dan bijak

..walaupun secara tersirat, saya tahu seorang kawan sedang marah, minimal kesal.  Saya cuma bisa menduga-duga entah ada apakah gerangan.  Sampai akhirnya saya membaca kisah keriuhan di suatu titik di pulau dewata, oleh manusia yang mengaku-ngaku cinta negeri ini, tetapi berlaku tidak seperti itu.

entahlah, saya merasa tak punya kapasitas untuk menilai orang-orang yang entah punya agenda apa, atau malah punya ketakutan apa.. biarlah sudah untuk sementara.

lalu, masalah kebijakan, itu ada kawan kerja yang sedang kuliah dan rupanya dapat tugas banyak.  Saya cuma bisa bantu minjemin buku sama kasih pandangan yang tampaknya malah bikin dia tambah pusing haha

Tapi buku yang saya pinjemin itu, berjudul besar Public Policy oleh Dr. Riant Nugraha, salah satu buku teori yang saya suka, tak sepenuhnya begitu sih, soalnya isinya lebih dari itu.  Kumpulan teori dan bermacam analisis kebijakan publik yang disusun dengan apik sehingga menyenangkan untuk dibaca.  Menurut saya begitu.  Selain itu gambar sampulnya menarik.  Saya rekomendasikan untuk yang mempelajari tentang kebijakan.

Kalau soal kebijakan, sebenarnya yang menarik saya justru soal kebijakan deliberatif, yang diajarkan oleh promotor saya saat awal kuliah.

Ini, kenapa kalau menulis disini lancarnya minta ampun.  Tatkala menyusun tugas untuk disampaikan ke bos kok ya macet haha.