posting lagi

terakhir posting disini tanggal 21 Juni.
entah kenapa kemarin ada yang error, username yang berubah dengan sendirinya, saat paswot dirubah, bisa sebentar dibuka lalu error lagi, lebih parahnya saya ga bisa masuk cPanel.  Entah ada apa dengan hosting ini, yang juga terasa sekarang saat dibuka loadingnya lumayan lama.

padahal cuma mau misuh sebentar, kalau tempat kerja suasananya sedang ga asik, jadi pengen cepat-cepat pindah rasanya.  banyak orang yang kerja cuma gara-gara mandang duitnya doang, padahal itu duit siapa untuk siapa buat apa juga.

sudah begitu saja.

Filosofi perjalanan Bluebell

Terhadap sebuah buku, ada dua perlakuan yang jamak saya lakukan: membacanya secepat mungkin-biasanya dikarenakan penasaran akan ending ceritanya, atau membacanya pelan-pelan. Dua macam perlakuan itu juga terkait ‘berat’ atau ‘ringan’ nya isi sebuah buku.

Buku 30 Hari Bersama Bluebell adalah semacam anomali, ceritanya mungkin agakt ‘ringan’, kisah perjalanan sepasang manusia penuh cinta berkeliling Britania Raya. Tapi saya harus membacanya pelan, dan perlu konsentrasi lebih mencermati bagian-bagian kisah setiap leg-nya.

Ya, alih-alih menggunakan kata Bab, penggunaan kata ‘leg’ sendiri sudah mengusik cerita perjalanan yang tak biasa itu.

Singkatnya, buku 30 hari bersama Bluebell, atau saya singkat Bluebell saja ya, adalah sebuah kisah perpisahan sebuah mobil biru -yang karena kebijakan negara setempat, harus ditiadakan karena kondisinya- dengan pemiliknya, yaitu mas Nick, suami dari mb Arie, penulis buku itu.

Sebelum Blubell -nama sang mobil- pensiun, kedua pengendara setianya itu ingin mengajaknya berkeliling ke penjuru Inggris, berziarah ke tempat leluhur, napak tilas jejak-jejak mereka sendiri, sekaligus menikmati kearifan lokal, selain meresapi kebersamaan mereka sendiri.

Tak cukup sampai disitu, tiap bagian buku juga bercerita tentang tempat, tentang jalan, tentang sejarah, tentang kisah, tentang-tentang .. ya tentang macam-macam hal menarik yang terjalin dengan apik. Dan semua dituliskan dengan detil, kentara sekali kualitas penulisnya yang sudah terasah menulis ‘rahasia’ di balik sebuah tempat, bahkan sebuah ruas jalan.

Yang menarik, saya jadi ikutan nostalgia, teringat akan cerita-cerita pendek, atau serial di makalah Hai sepanjang era 90-an. Seringkali dalam sebuah kisah menyelipkan detil atau bahkan sejarah sebuah tempat, yang membuat pembaca penasaran ingin menelusuri sudut-sudut tempat yang dituturkan penulisnya. Misal balada si Roy-nya Gola Gong yang berkisah tentang Banten, atau anak-anak Alin-nya bubin LantanG yang berkisah tentang kota Bandar Lampung. Saya jadi membayangkan seberapa penuh isi logbook dalam perjalanan Bluebell ini.

Lebih dari itu, di sela-sela perjalanan mengunjungi kastil, pantai, kota, pedesaan, bermacam kondisi jalan dan cuaca, buku ini juga secara halus adalah sebuah memoar dan labirin ingatan perjalanan dan hidup penulisnya. Seringkali melintas cerita tentang potret sesepuh, potret seorang kawan, potret masa lalu, dan segala potret-potret hal-hal yang kadang kita anggao remeh padahal mengambil peran penting dalam hidup. Misalkan saja kisah tentang sepasang carrier, yang rupanya menghiasi kisah petualangan Arie dan Nick, yang terpaksa tak diikutsertakan dalam perjalanan dengan alasan kepraktisan.

Kisah di sepanjang halaman 70-an itu mengusik ingatan saya akan carrier biru hijau saya yang sekarang entah dimana, dan ujug-ujug menggugah saya untuk membeli carrier baru lagi, siapa tahu nanti suatu saat bisa menemani saya menapaktilasi jejak Bluebell nun jauh di sana.

Bagian lain, yang paling penting, buku ini sebenarnya bercerita tentang cinta, sebenar-benarnya cinta, yang seakan tak kentara terpulas dalam setiap leg-nya. Mas Nick dan mb Arie mengajarkan -secara tak langsung- bagaimana cara menghargai pasangan, mencintainya dengan tulus, dengan jujur dan prasangka yang baik.

Juga cinta terhadap sebuah tempat, kepada keluarga, bahkan kepada benda, terutama pada tokoh utama kisah ini: sang Bluebell.

Terbayang oleh saya bagaimana segala napas cinta itu dihembuskan dalam kata-kata, napas-napas kalimat yang berhasil mentransferkan emosi penulisnya pada saya. Sampai saya mengakhiri halaman terakhir dengan berkaca-kaca. Perpisahan dengan Bluebell digambarkan dengan apik, walau membuat hati saya ikutan runtuh.

Terakhir, selain berisi beberapa trik perjalanan, tempat-tempat unik semisal latar kisah Lima Sekawan karya Enyd Blyton atau tempat syuting film Harry Potter atau ruas jalan bernama keluarga mas Nick, buku ini bagi saya berisi penuh filosofi perjalanan, tak sekedar perjalanan mengelilingi sebuah negara atau benua, tapi bagaimana menyikapi & menikmati perjalanan hidup di dunia yang teraat singkat ini.

Terimakasih untuk Ukirsari, atas perjalanan epiknya. Ditunggu kisah-kisah menarik berikutnya. Salam.

-bjb, 090618-

review IEM Pioneer SE-C3T

Jujur. Pioneer SE-C3T saya beli gara2 nama & harga diskonnya. Selain itu saya penasaran pengen nyoba IEM. Housing aluminium, kabel OFC, 4 ukuran eartips, jd pertimbangan lainnya.

Pertama dateng, coba sebentar, nyocokin ke kuping, denger sekilas, lalu memutuskan burn in.

Setelah dibiarin sama iphone 3G selama kurang lebih 20 jam. Dan sambil terus didengerin setengah harian, akhirnya memberanikan diri bikin impresi sesuai apa yg kuping saya rasakan.

Menurut saya karakternya termasuk flat sedikit bright. Separasi instrumen dll lumayan bagus, detilnya juga bagus.

Vokal terdengar pas, tak terlalu maju, saya bisa membedakan suara latar dengan vokal utama, bahkan lagu dengan tiga layer vokal bisa terdengar dengan baik.

Suara bass cukupan laah. Tidak terlalu nonjok tapi enak, porsinya sebagai latar musik pas dan tak berlebihan.

Treble asik. Simbal dan tamborin terdengar jelas, tak tertutupi instrumen lain. Melody & rhythm gitar cukupan, mungkin tidak terlalu pas untuk rock n roll yg perlu saus pedas level tinggi.

Kesimpulan saya. Vokalan bagus. Lagu2 slow rock/pop bagus. Akustikan enak. Tak begitu cocok utk yg mendewakan unsur bass. Walo begitu lagunya mb Nella asik jg, gendangnya cukup nampol hehe

Saya audisi lebih sering pake iphone 5s, sering direct, kadang2 pairing sama walnut v2. Beberapa lagu pake zishan z1. Dan saya merasa kualitas/format lagu benar2 mempengaruhi output IEM yg skarang harganya sdh balik normal 235rb lg.

Overall tak rugi lah utk dikoleksi. Oiya, walaupun impedancenya cuma 16 ohm, saya perlu buka volume ip 5s sampai di atas 70% baru kedenger potensi suaranya.

Sebagai tambahan, karena ada tombol utk mic, jd gampang utk mindah lagu, tinggal dobel klik, atau satu klik utk pause.

/beberapa lagu yg saya pake utk tes:

via JOOX (HQ):

Baby I’m gonna leave you – Led Zeppelin
Dilarang di Bandung- Seringai

via Zishan Z1 (v6 classic)+walnut v2 (v5i):

Konco mesra – Nella Kharisma (mp3)
New Rules & IDGAF – Dua Lipa (flac)

Apple Music:

Solo – clean bandit feat demi lovato
No tears left to cry – ariana grande

(Dan beberapa lagu lain yg saya lupa listnya)

Demikian review saya sementara. Semoga berkenan. #TrustYourEars

//review ini adalah postingan saya di grup fb Audio Kere Hore.

Tidak penting

..banyak hak tak penting yang saya lakukan di awal Mei ini. Rasanya begitu.

Mau diceritain juga tak terlalu penting. Cuma apa ya, saya masih penasaran ingin belajar nulis yang agak rapi sedikit. Biar bisa protas protes dengan sedikit elegan di halaman opini sebuah koran, misalnya.

Ohiya, bubin LantanG menuliskan sesuatu di halaman depan episode epilog anak-anak mama alin, dan sekarang tulisan itu seakan mulai menjelma nyata. Dan itu sangat menyedihkan.

Klangenan Audio

Dadi ngene, halagh.. manusia kui menurut saya kudu punya kesenangan, hobi atau apalah, demi apa? Demi menikmati hari-hari.. okedeh semakin kacau sahaja intro postingan ini

Setelah dulu pernah senang dengan DLSR, akrab dengan sepeda, sekarang saya lagi sok-sokan menyukai perangkat audio portabel, berikut printilannya.

Baru saja, saya menemukan kombinasi gear yang outputnya lumayan detil dan apa ya, bagus lah di kuping saya

Walnut v2 yang saya dapet murah dari lelang di grup audio fb saya jadikan amplifier, dengan penggantian opamp dari stock bawaan menjari Burson V5i Dual yang sebelumnya tertancap di Zishan Z1.

Zishan cuma difungsikan sebagai digital audio player (DAP), kemudian earphone saya juga sekarang ganti dengan Heavenly Sound seri Cadenza yang dengan berat diakui outputnya lebih detil dibanding Sabia V5 andalan saya selama ini.

Jadi, begitulah sementara ini. Entahlah besok, kuping saya masih harus belajar membedakan karakter suara, separasi, soundstage dan lain lain. Masih rada lieur ..

*kiri itu Zishan Z1, kanan adalah Walnut V2, tergeletak di sampingnya adalah Cadenza

QRDJK

Sahibul hikayat. Sewaktu di Jogja, pernah ada blogger kondang, salah satu yang ingin saya temui, dateng.  Saya tak tahu persis kapan dan dimana.  Dan tau-tau, beberapa waktu kemudian, seorang blogger yang lain bercerita kalau sehari sebelumnya, sudah bertemu dan ngobrol nyaris seharian dengan orang yang ingin saya temui itu.  Sedikit menyebalkan memang, mending tak usah pakai cerita-cerita sekalian.  Atau paling tidak memberitahu kapan dan dimana gitu, toh saya bisa berangkat sendiri. Tapi entahlah.

Kemudian, kemarin.  Salah seorang penulis kondang.  Memang sudah pernah bertemu, melihat dari jarak cukup dekat tepatnya, sewaktu di Jogja.  Tapi kemarin, penulis itu mampir di kota saya dalam suatu acara.

Lalu, ada suatu momen, penulis itu pergi ke suatu tempat. Bersama beberapa kawan. Konyolnya, saya tau hal itu dari postingan orang di sosial media.

Sedikit menyebalkan. Kenapa saya harus tahu tentang itu. Mending tak tahu apa-apa. Tapi, saya tak kecewa. Karena toh kalaupun misalnya diajak, saya tak bisa berangkat karena sibuk jagain anak-anak.

Tapi, masalahnya, dua kali kejadian, diajak aja ngga. Itu kan sungguh nganu 😅

Domain expired

Domain saya ini ternyata expired kemarin, lalu dapet email pemberitahuan, dan konyolnya saya langsung main transfer saja tadi pagi.  Saat ngebuka blog ini eh ga bisa, trus cek status domain, eh expired.  Sedikit panik.  Lalu menghubungi CS masterweb.

Ternyata masih ada tenggang waktu sampai besok, pembayaran saya tadi pagi pun bisa dikonfirmasi, terus akhirnya saya bisa posting lagi

 

haduh postingan apaan ini, tak beraturan sama sekali.

Flashdisk yang read only di debian

Jadi, flashdisk punya honey kui pas dicolokin ke fujitsu saya yg masih pakai debian ini ga bisa kebaca, akhirnya gugling cara formatnya via terminal.  Coba ini itu, bisa keformat, tapi giliran mau tes masukin file eh error.  Ada keterangan: flashdisk ente read only ..

Gugling lagi.  Coba ini itu lagi.

Sampai akhirnya ada yang nyaranin pake Gparted, akhirnya instal ulang Gparted yang ikut teruninstall gara-gara upgrade debian 9.  Trus format ulang pake ntfs.  Gagal.  Format lagi pake Fat32, akhirnya berhasil.

Ternyata gitu aja.

paramore minggu ini

saya cuma lagi seneng denger Paramore, yang grupnya baru saya ngeh saat liat vidklip Crushcrushcrush dimana lupa, youtube mungkin.  Lalu rasanya menyenangkan melihat penampilan mereka di MTV unplugged.  Sebelumnya saya suka lagu Ignorance itu, dan ternyata makin keren saat dibawakan secara akustik

Kuping saya yang juga labil ini, memang semau-maunya mengganti playlist di DAP (gaya-gayaan pake istilah digital audio player padahal cuma pakai iphone 3G kalau nggak ganti Nokia X1-00, sesekali saja pakai iphone 5S).

Minggu-minggu kemarin saya sempat mengisi playlist dengan lagu-lagunya Band-Maid, tapi kualitas mixingnya banyak yang tak berkenan, jadi dihapus lagi.  Rasanya jarang sebuah lagu bertahan abadi dalam playlist memang.

Apalagi?

Saya lagi capek nyari berkas yang hilang gara-gara kecerobohan saya sendiri sebenarnya, jadi bercerita ngelantur gini.  E bentar, memang pernah saya fokus dalam bercerita?