petrichor.

kira-kira menjelang jam sembilan malam, saya beranjak naik motor ke rumah seorang kawan, lewat jalanan yang cukup sepi dan lengang, sampai-sampai di beberapa ruas saya dapat mencium aroma dedaunan, dan aroma alam sehabis dibasahi hujan tadi sore. dingin.

bertemu dengan setengah lusin kawan satu angkatan kuliah, makan-makan sebentar sesuai undangan tuan rumah, lalu menggelar obrolan di teras rumahnya.

seperti biasa, obrolan mesti berkisar tentang nostalgia dengan kawan-kawan satu angkatan, tak lupa tentu membuka aib sana-sini.  sambil mengingat-ingat kelakuan masa lalu, saya cuma sesekali menimpali dan menambahkan cerita.  senang melihat kawan banyak yang sukses, bagus jalan hidupnya.  walau teringat kisah hidup beberapa kawan yang tak tertebak, lalu tentang beberapa kawan yang sulit untuk dihubungi apalagi ditemui.

obrolan juga menjalar tentang betapa hidup diatur oleh beberapa pengusaha yang notabene orang berduit, kisah klasik yang entahlah, karena saya juga kurang cukup bukti.  tapi mereka meyakinkan.  bahwa hidup di kampung, di luar pulau jawa, seakan-akan hidup sudah ditentukan dan diatur oleh hanya beberapa orang.

mengingat-ingat itu, sungguh saya merasa persoalan di kantor yang akhir-akhir ini sedikit pelik dan membosankan, adalah tidak ada apa-apanya.

di satu sisi saya sedikit lega, di sisi lain membuat sedikit kecewa, setengah mati kerja (paksa) dan mempertahankan ideologi, di sisi lain dunia ada orang yang tertawa-tawa saja mengatur jalan hidupnya.

tapi sungguh, aroma dedaunan di jalanan, udara yang dingin sepanjang jalan pulang, sisa-sisa obrolan dengan kawan, menghibur pikiran saya yang beberapa hari terakhir sungguh kusut memikirkan suasana kantor yang membingungkan.  sampai-sampai saya merasa sedikit kehilangan kesadaran akan sekeliling saya.  bahwa sebenarnya masih ada orang-orang yang menunggu saya pulang.

sedikit lupa bahwa saya punya kehidupan sendiri untuk dinikmati. dan yang paling bahaya, suasana kantor terkadang membuat saya seakan dicuci otak hingga lupa untuk bersyukur.

sungguh terimakasih, untuk sepenggal malam ini, sampai tadi obrolan kami berakhir di jam dua dinihari.