dinihari.

lama rasanya tak menulis jam segini. di saat sunyi, orang-orang sedang terlelap.  pikiran pun antara ingin diam dan berkeliaran.  sementara rencana jauh nanti pagi sepertinya ditunda saja. tapi entahlah, liat nanti pagi.

saya cuma mau introspeksi sedikit saja. ngaca. bahwa saya bukan apa-apa. sejak kapan pun memang begitu.  merasa bukan apa-apa, bukan siapa-siapa itu membuat saya bebas bergerak.

jadi pengamat, tanpa mengeluarkan komentar apa-apa. -itu saya sewaktu masa sekolah-  rasanya sangat menyenangkan.

ahsudahlah.  postingan macam apa ini.  yang penting posting lagi.  toh siapa juga yang baca tulisan ajaib seperti ini.

Rindu yang berat di jamannya

Mungkin, yang ikut-ikutan bilang rindu itu berat, akhir-akhir ini, hanya gara-gara nonton film 1990 an itu.  Saya sih tidak, karena ehm pelaku LDR bangkotan di jaman itu.  Dan nyatanya memang demikian euy.

Pertama adalah hal surat-suratan.

Waktu saya kuliah, ongkos pos kilat khusus kalau tidak salah adalah seribu rupiah, lah uang saku bulanan saya waktu itu kalau tak salaah sekitar 40-50 ribuan per bulan.  Untuk ngirim surat saja saya musti merelakan sarapan beberapa hari hahaha miris.

Masalah surat itu sebenarnya saya bingung sendiri sekarang, dulu kok ya bisa, nunggu kabar paling cepat seminggu sampai, lalu nunggu balasannya smingguan lagi, gimana bisa marah-marahan coba, ceritanya sudah agak-agak basi, kelamaan di jalan.  Sabar lho, bilang rindu sekarang, dibalesanya dua minggu kemudian XD

Hal kedua adalah telepon.

Pas pacar yang jaraknya ratusan kilo di seberang lautan itu menggoda untuk ditelepon, itu musti ke wartel untuk nelepon.  Taripnya lagi-lagi musti merelakan sarapan dan jajan di kampus untuk seminggu huahua.  Itu pun harus nelpon di atas jam 11 malam, atau subuh sekalian sebelum jam 6 pagi, demi diskon interlokal 75%.  Di saat wartel mau tutup pas malam, atau seringkali saat penjaga wartelnya masih ngorok saat subuh.

Kenapa harus ke wartel? Karena telepon adalah benda mewah di jaman itu, wahai.

Ketiga adalah apel.

Mau apel? Edun. Bahasa saya, apel haha.  Mau nengok, rumah pacar yang di ujung dunia itu, ke dalemnya kadang pas ada duit, naik angkot terus sambung ngojek.  Pas lagi keren, naik angkot terus lanjut jalan kaki pulangnya.  Berat di tenaga juga. Ditambah belum punya motor, beh naik motor pun saya baru bisa pas kuliah semester lima.

Kesimpulannya, lebih berat di ongkos, sih hihi