Kultur.

Dalam sebuah rapat mini, ya karena pesertanya cuma dikit. Beberapa hari yg lalu, membahas kegiatan di kantor yg bisa dibilang di ujung tanduk, deadline.

Big boss, setelah menekankan itu ini, begini begitu, ujug-ujug mengaitkannya dengam sedikit ancaman terkait jabatan, mutasi jika acara tak sukses.

Juga, ujug-ujug menyarankan saya mikirin jenjang karir, nyuruh saya bikin target, nanti harus jadi gini, kelak harusnya bisa jadi gitu.

Sayangnya, saya hidup di lingkungan dengan kultur yang tak mengajarkan tentang ambisi. Kebanyakan ngajarin untuk memperhatikan batas antara hak & kewajiban dalam bekerja. Ngajarin kesederhanaan. Ngajarin idealisme, bahwa berusaha bekerja sebaik mungkin. Soal jenjang anak tangga menuju tingkatan yg makin menanjak, kalaupun bisa sampai, itu adalah bonus.

Saya lebih memikirkan tentang survival. Berusaha bertahan dari arus hidup yang semakin tak terduga. Belajar mempelajari arus untuk sesekali menentangnya saat membuat larut terlalu jauh dari jalur.

Guru-guru kehidupan saya rasanya tiada yg ngajarin untuk memplot masa depan, untuk berusaha mengejarnya sekuatnya. Yg ada adalah ajaran untuk bertahan sebisanya.

Jikalau sudah berusaha sudah tak mungkin, sesekali mundur beberapa langkah juga tak mengapa. Yg penting hidup bisa terus berjalan, dan napas bisa masih terasa lega saat dihirup.

Itu saja.

5 thoughts on “Kultur.”

  1. Nah itu dia om.. bagusnya kalo rutin bertemu dengan orang yang tipe memplot hidupnya dan berusaha mengajarkan agar berambisi itu bagaimana cara menghadapinya ya? Saya biasanya cuma angguk-angguk saja saat dinasehati. Tapi kadang ya jadi kebawa bapernya merasa diri ini kurang berguna, apalagi kalau sudah ada pembanding.

    Hehe…

    1. @desti
      saya ya biasanya diam saja, lalu berusaha untuk diam2 pergi menghindar dan tak mau mendengarkannya lagi. kenapa juga orang harus mengatur sikap & hidup kita?

      kadang ya seperti katamu, jd serasa tak berguna kalo ada pembanding, tapi saya sih cuek saja lah, jalan hidup orang beda2 ini hehe

  2. Couldn’t agree moreee….
    Nikmati aja… melakukan yang baik terbaik… cukup wis… tenang rejeki sdh ada yang ngatur kita mah jalani ajah…

  3. kok mirip sama situasiku sebelumnya.
    sampai-sampai kalau mau nyuruh-nyuruh yang keliatan aku keberatan ngerjainnya (karena satu dan lain hal), bilangnya “kamu itu berpotensi. nanti kamu saya proyeksikan supaya bisa naik” seolah-olah sesudah dia ngomong gitu, aku bakal manut aja apa maunya.
    aku sih lempeng aja bilang “gak perlu sih pak, saya gak berminat jadi stuktural. lagian gak semua orang cocok jadi pejabat, saya kan pengennya fungsional”.
    Aku selama kerja profesional, tak jabanin. tapi kalau di luar itu sih ogah.

    songong banget kedengerannya, tapi bener.kan, gak semua orang cocok jadi struktural menurutku. apalagi untuk mendapatkannya aku harus nyembah2 dulu :p

Leave a Reply