Filosofi perjalanan Bluebell

Terhadap sebuah buku, ada dua perlakuan yang jamak saya lakukan: membacanya secepat mungkin-biasanya dikarenakan penasaran akan ending ceritanya, atau membacanya pelan-pelan. Dua macam perlakuan itu juga terkait ‘berat’ atau ‘ringan’ nya isi sebuah buku.

Buku 30 Hari Bersama Bluebell adalah semacam anomali, ceritanya mungkin agakt ‘ringan’, kisah perjalanan sepasang manusia penuh cinta berkeliling Britania Raya. Tapi saya harus membacanya pelan, dan perlu konsentrasi lebih mencermati bagian-bagian kisah setiap leg-nya.

Ya, alih-alih menggunakan kata Bab, penggunaan kata ‘leg’ sendiri sudah mengusik cerita perjalanan yang tak biasa itu.

Singkatnya, buku 30 hari bersama Bluebell, atau saya singkat Bluebell saja ya, adalah sebuah kisah perpisahan sebuah mobil biru -yang karena kebijakan negara setempat, harus ditiadakan karena kondisinya- dengan pemiliknya, yaitu mas Nick, suami dari mb Arie, penulis buku itu.

Sebelum Blubell -nama sang mobil- pensiun, kedua pengendara setianya itu ingin mengajaknya berkeliling ke penjuru Inggris, berziarah ke tempat leluhur, napak tilas jejak-jejak mereka sendiri, sekaligus menikmati kearifan lokal, selain meresapi kebersamaan mereka sendiri.

Tak cukup sampai disitu, tiap bagian buku juga bercerita tentang tempat, tentang jalan, tentang sejarah, tentang kisah, tentang-tentang .. ya tentang macam-macam hal menarik yang terjalin dengan apik. Dan semua dituliskan dengan detil, kentara sekali kualitas penulisnya yang sudah terasah menulis ‘rahasia’ di balik sebuah tempat, bahkan sebuah ruas jalan.

Yang menarik, saya jadi ikutan nostalgia, teringat akan cerita-cerita pendek, atau serial di makalah Hai sepanjang era 90-an. Seringkali dalam sebuah kisah menyelipkan detil atau bahkan sejarah sebuah tempat, yang membuat pembaca penasaran ingin menelusuri sudut-sudut tempat yang dituturkan penulisnya. Misal balada si Roy-nya Gola Gong yang berkisah tentang Banten, atau anak-anak Alin-nya bubin LantanG yang berkisah tentang kota Bandar Lampung. Saya jadi membayangkan seberapa penuh isi logbook dalam perjalanan Bluebell ini.

Lebih dari itu, di sela-sela perjalanan mengunjungi kastil, pantai, kota, pedesaan, bermacam kondisi jalan dan cuaca, buku ini juga secara halus adalah sebuah memoar dan labirin ingatan perjalanan dan hidup penulisnya. Seringkali melintas cerita tentang potret sesepuh, potret seorang kawan, potret masa lalu, dan segala potret-potret hal-hal yang kadang kita anggao remeh padahal mengambil peran penting dalam hidup. Misalkan saja kisah tentang sepasang carrier, yang rupanya menghiasi kisah petualangan Arie dan Nick, yang terpaksa tak diikutsertakan dalam perjalanan dengan alasan kepraktisan.

Kisah di sepanjang halaman 70-an itu mengusik ingatan saya akan carrier biru hijau saya yang sekarang entah dimana, dan ujug-ujug menggugah saya untuk membeli carrier baru lagi, siapa tahu nanti suatu saat bisa menemani saya menapaktilasi jejak Bluebell nun jauh di sana.

Bagian lain, yang paling penting, buku ini sebenarnya bercerita tentang cinta, sebenar-benarnya cinta, yang seakan tak kentara terpulas dalam setiap leg-nya. Mas Nick dan mb Arie mengajarkan -secara tak langsung- bagaimana cara menghargai pasangan, mencintainya dengan tulus, dengan jujur dan prasangka yang baik.

Juga cinta terhadap sebuah tempat, kepada keluarga, bahkan kepada benda, terutama pada tokoh utama kisah ini: sang Bluebell.

Terbayang oleh saya bagaimana segala napas cinta itu dihembuskan dalam kata-kata, napas-napas kalimat yang berhasil mentransferkan emosi penulisnya pada saya. Sampai saya mengakhiri halaman terakhir dengan berkaca-kaca. Perpisahan dengan Bluebell digambarkan dengan apik, walau membuat hati saya ikutan runtuh.

Terakhir, selain berisi beberapa trik perjalanan, tempat-tempat unik semisal latar kisah Lima Sekawan karya Enyd Blyton atau tempat syuting film Harry Potter atau ruas jalan bernama keluarga mas Nick, buku ini bagi saya berisi penuh filosofi perjalanan, tak sekedar perjalanan mengelilingi sebuah negara atau benua, tapi bagaimana menyikapi & menikmati perjalanan hidup di dunia yang teraat singkat ini.

Terimakasih untuk Ukirsari, atas perjalanan epiknya. Ditunggu kisah-kisah menarik berikutnya. Salam.

-bjb, 090618-

6 thoughts on “Filosofi perjalanan Bluebell”

  1. Akhirnya, setelah terharu sekian kali, setiap saat membaca review ini, saya berhasil menulis di sini: terima kasih tak terhingga kepada Mas Rd Sya’rani, sang reviewer yang senantiasa mengikuti perjalanan kepenulisan saya. Juga memberikan dukungan: bahwa sebaiknya saya terus menulis. Berbagi ide dan cerita, juga berbagi dalam bingkai yang luas. Agar dunia kepenulisan senantiasa hidup, ada, dan dirindukan. Seperti sebuah perjalanan. Terima kasih! Matur nuwun sanget.

    1. @ukirsari
      Wah, suatu kehormatan bagi saya, penulisnya bisa datang & memberi komentarnya di blog saya ini. Saya yg kudu berterimakasih sudah diajarkan cara menulis & bertutur yg baik oleh njenengan, walau secara tak sengaja. Maturnuwun mb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *