tentang konfrontasi

..sedari dulu, rupanya saya terlahir untuk lebih menghindari konfrontasi daripada menghadapinya, apalagi melawannya, terkecuali dalam keadaan sangat terpaksa..

saya suka lelah dengan hal-hal sepele yang bisa jadi pemicu masalah, konfrontasi, perang, atau apapun.  Mending diam lalu menjauh dan mencari tempat senyap untuk bertanya-tanya sendiri, kenapa harus begitu, kenapa harus jadi gitu, dan banyak kenapa yang lainnya..

mungkin saya yang memang tak bisa memahami apa maunya orang-orang, mungkin begitu juga sebaliknya.

tapi terus terang, saya lelah dengan segala konfrontasi yang harus dihadapi, sepertinya saya memang terlahir untuk tak pernah siap menghadapi peperangan, sekecil apapun.

cemen.

ke Bogor (lagi)

..saat ramadhan, nenek istri saya yang di Cicurug, Sukabumi itu kabarnya sakit, tapi mendadak katanya sehat dan membaik kondisinya saat honey bilang insya Allah ntar lebaran mau nengok beliau

Jadi aja akhirnya diniatin untuk mudik ke kampung halaman honey, kebetulan si barep Thor dan bang Ai sedan libur sekolah juga.  Jad aja cari-cari tiket untuk setengah lusin manusia hehe.  Alhamdulillah rejekinya dicukupkan untuk beli tiket pesawat yang lagi edan-edannya.  Kebetulan dapet harga yg cukup lumayan di hari kedua lebaran.

Tak hanya keluarga saya, mertua dua-duanya juga ikut mudik, ditambah keluarga adik ipar, terakhir saya ngajak abah juga untuk ikutan.  Total jenderal 14 orang yang mudik.

Nginep di rumah mertua adik ipar, lalu mengarungi macet ke rumah nenek di Cicurug, nginep dua malem disitu, trus balik lagi ke Bogor yang dilanjut piknik ke Kebon Raya Bogor! Kebun yang tak pernah bosen-bosennya saya datengin, menyenangkan rasanya sudah jalan-jalan di dalamnya.

Sebenernya, ke kota Bogor saja sudah cukup menyenangkan buat saya, udaranya, orang-orangnya, jalanannya, selalu menyenangkan untuk dinikmati.  Bahkan sekedar muter-muter naik motor keliling kota kecil yg padat itu sudah lebih dari cukup buat saya.  Tentu sembari nostalgia yang tak habis-habisnya hehe

Dan jam satu dinihari tadi saya pulang duluan, demi waktu masuk kerja yang maksa banget, padahal belum efektif juga, ya sayanya juga sih yang masih males langsung ngurusin kerjaan hehe.

Oiya, kemarin itu dari Cicurug ke Bogor, merupakan pengalaman pertama saya nyetir di sana, deg-degan, selain keder sama macetnya, juga takut apa-apa sama mobil dapet minjem dari mamang disana.  Untunglah lancar.

Impresi yang Subjektif

..beberapa waktu terakhir, saya suka sok-sokan ngasih impresi atas apa yang saya dengarkan via kuping. Ngasih impresinya di grup yang isinya orang-orang yang suka ‘suara’ bagus pula.

Jujur, sebenarnya saya keder sendiri saat bikin impresi, soalnya apa yang saya tuliskan itu benar-benar subjektif, sesuai dengan apa yang saya rasakan, yang jelas sekali referensi saya sangat terbatas juga.  Lebih-lebih saya masih tak bisa ngasi istilah-istilah teknis yang rada njelimet kui.

Makin keder lagi, akhirnya pada ngasih komentar, minta komparasi dengan ini itu, hedeh.  Mudah-mudahan pada ngerti bahwa indera seseorang punya sensitivitas yang beda-beda. Membagi impresi yang saya rasakan, tak lebih menuliskan dan menyimpulkan kembali. Dan sekali lagi teramat sangat subjektif, lha respondennya saya sendiri, merangkap analis dan penulis #halagh

Filosofi perjalanan Bluebell

Terhadap sebuah buku, ada dua perlakuan yang jamak saya lakukan: membacanya secepat mungkin-biasanya dikarenakan penasaran akan ending ceritanya, atau membacanya pelan-pelan. Dua macam perlakuan itu juga terkait ‘berat’ atau ‘ringan’ nya isi sebuah buku.

Buku 30 Hari Bersama Bluebell adalah semacam anomali, ceritanya mungkin agakt ‘ringan’, kisah perjalanan sepasang manusia penuh cinta berkeliling Britania Raya. Tapi saya harus membacanya pelan, dan perlu konsentrasi lebih mencermati bagian-bagian kisah setiap leg-nya.

Ya, alih-alih menggunakan kata Bab, penggunaan kata ‘leg’ sendiri sudah mengusik cerita perjalanan yang tak biasa itu.

Singkatnya, buku 30 hari bersama Bluebell, atau saya singkat Bluebell saja ya, adalah sebuah kisah perpisahan sebuah mobil biru -yang karena kebijakan negara setempat, harus ditiadakan karena kondisinya- dengan pemiliknya, yaitu mas Nick, suami dari mb Arie, penulis buku itu.

Sebelum Blubell -nama sang mobil- pensiun, kedua pengendara setianya itu ingin mengajaknya berkeliling ke penjuru Inggris, berziarah ke tempat leluhur, napak tilas jejak-jejak mereka sendiri, sekaligus menikmati kearifan lokal, selain meresapi kebersamaan mereka sendiri.

Tak cukup sampai disitu, tiap bagian buku juga bercerita tentang tempat, tentang jalan, tentang sejarah, tentang kisah, tentang-tentang .. ya tentang macam-macam hal menarik yang terjalin dengan apik. Dan semua dituliskan dengan detil, kentara sekali kualitas penulisnya yang sudah terasah menulis ‘rahasia’ di balik sebuah tempat, bahkan sebuah ruas jalan.

Yang menarik, saya jadi ikutan nostalgia, teringat akan cerita-cerita pendek, atau serial di makalah Hai sepanjang era 90-an. Seringkali dalam sebuah kisah menyelipkan detil atau bahkan sejarah sebuah tempat, yang membuat pembaca penasaran ingin menelusuri sudut-sudut tempat yang dituturkan penulisnya. Misal balada si Roy-nya Gola Gong yang berkisah tentang Banten, atau anak-anak Alin-nya bubin LantanG yang berkisah tentang kota Bandar Lampung. Saya jadi membayangkan seberapa penuh isi logbook dalam perjalanan Bluebell ini.

Lebih dari itu, di sela-sela perjalanan mengunjungi kastil, pantai, kota, pedesaan, bermacam kondisi jalan dan cuaca, buku ini juga secara halus adalah sebuah memoar dan labirin ingatan perjalanan dan hidup penulisnya. Seringkali melintas cerita tentang potret sesepuh, potret seorang kawan, potret masa lalu, dan segala potret-potret hal-hal yang kadang kita anggao remeh padahal mengambil peran penting dalam hidup. Misalkan saja kisah tentang sepasang carrier, yang rupanya menghiasi kisah petualangan Arie dan Nick, yang terpaksa tak diikutsertakan dalam perjalanan dengan alasan kepraktisan.

Kisah di sepanjang halaman 70-an itu mengusik ingatan saya akan carrier biru hijau saya yang sekarang entah dimana, dan ujug-ujug menggugah saya untuk membeli carrier baru lagi, siapa tahu nanti suatu saat bisa menemani saya menapaktilasi jejak Bluebell nun jauh di sana.

Bagian lain, yang paling penting, buku ini sebenarnya bercerita tentang cinta, sebenar-benarnya cinta, yang seakan tak kentara terpulas dalam setiap leg-nya. Mas Nick dan mb Arie mengajarkan -secara tak langsung- bagaimana cara menghargai pasangan, mencintainya dengan tulus, dengan jujur dan prasangka yang baik.

Juga cinta terhadap sebuah tempat, kepada keluarga, bahkan kepada benda, terutama pada tokoh utama kisah ini: sang Bluebell.

Terbayang oleh saya bagaimana segala napas cinta itu dihembuskan dalam kata-kata, napas-napas kalimat yang berhasil mentransferkan emosi penulisnya pada saya. Sampai saya mengakhiri halaman terakhir dengan berkaca-kaca. Perpisahan dengan Bluebell digambarkan dengan apik, walau membuat hati saya ikutan runtuh.

Terakhir, selain berisi beberapa trik perjalanan, tempat-tempat unik semisal latar kisah Lima Sekawan karya Enyd Blyton atau tempat syuting film Harry Potter atau ruas jalan bernama keluarga mas Nick, buku ini bagi saya berisi penuh filosofi perjalanan, tak sekedar perjalanan mengelilingi sebuah negara atau benua, tapi bagaimana menyikapi & menikmati perjalanan hidup di dunia yang teraat singkat ini.

Terimakasih untuk Ukirsari, atas perjalanan epiknya. Ditunggu kisah-kisah menarik berikutnya. Salam.

-bjb, 090618-

tidak bisa login

..barusan, beberapa saat yg lalu saya berniat untuk apdet blog ini.  Tapi anehnya saya tidak bisa login.  Perasaan saya tidak pernah mengganti username dan passwordnya.

Mau reset paswot juga gagal, karena saya baru sadar kalo blog ini tidak pake gmail.  Akhirnya terpaksa gugling dan nemu tutorial reset paswot via cpanel.

Saya coba lagi, masih saja tidak bisa.  Lalu teringat sesuatu, username saya ganti dengan email default hosting ini, yaitu: admin@auk.web.id .. baru setelah itu bisa login.

Apakah mungkin kejadian ini akibat ada dua username yg sama? Entahlah.  Yang jelas tempat kerja yg sekarang, sementara ini ga asik #lah