review IEM Pioneer SE-C3T

Jujur. Pioneer SE-C3T saya beli gara2 nama & harga diskonnya. Selain itu saya penasaran pengen nyoba IEM. Housing aluminium, kabel OFC, 4 ukuran eartips, jd pertimbangan lainnya.

Pertama dateng, coba sebentar, nyocokin ke kuping, denger sekilas, lalu memutuskan burn in.

Setelah dibiarin sama iphone 3G selama kurang lebih 20 jam. Dan sambil terus didengerin setengah harian, akhirnya memberanikan diri bikin impresi sesuai apa yg kuping saya rasakan.

Menurut saya karakternya termasuk flat sedikit bright. Separasi instrumen dll lumayan bagus, detilnya juga bagus.

Vokal terdengar pas, tak terlalu maju, saya bisa membedakan suara latar dengan vokal utama, bahkan lagu dengan tiga layer vokal bisa terdengar dengan baik.

Suara bass cukupan laah. Tidak terlalu nonjok tapi enak, porsinya sebagai latar musik pas dan tak berlebihan.

Treble asik. Simbal dan tamborin terdengar jelas, tak tertutupi instrumen lain. Melody & rhythm gitar cukupan, mungkin tidak terlalu pas untuk rock n roll yg perlu saus pedas level tinggi.

Kesimpulan saya. Vokalan bagus. Lagu2 slow rock/pop bagus. Akustikan enak. Tak begitu cocok utk yg mendewakan unsur bass. Walo begitu lagunya mb Nella asik jg, gendangnya cukup nampol hehe

Saya audisi lebih sering pake iphone 5s, sering direct, kadang2 pairing sama walnut v2. Beberapa lagu pake zishan z1. Dan saya merasa kualitas/format lagu benar2 mempengaruhi output IEM yg skarang harganya sdh balik normal 235rb lg.

Overall tak rugi lah utk dikoleksi. Oiya, walaupun impedancenya cuma 16 ohm, saya perlu buka volume ip 5s sampai di atas 70% baru kedenger potensi suaranya.

Sebagai tambahan, karena ada tombol utk mic, jd gampang utk mindah lagu, tinggal dobel klik, atau satu klik utk pause.

/beberapa lagu yg saya pake utk tes:

via JOOX (HQ):

Baby I’m gonna leave you – Led Zeppelin
Dilarang di Bandung- Seringai

via Zishan Z1 (v6 classic)+walnut v2 (v5i):

Konco mesra – Nella Kharisma (mp3)
New Rules & IDGAF – Dua Lipa (flac)

Apple Music:

Solo – clean bandit feat demi lovato
No tears left to cry – ariana grande

(Dan beberapa lagu lain yg saya lupa listnya)

Demikian review saya sementara. Semoga berkenan. #TrustYourEars

//review ini adalah postingan saya di grup fb Audio Kere Hore.

a Rockcans named Korsa

Apa yang menarik dari sebuah lagu rock? Distorsi!  Dan itu tergambarkan dengan baik oleh earbuds bernama Korsa 1948 dengan codename Hantu Laut, bikinan anak muda bernama Fadilla Rama Widapratama empunya brand Korsa Barracks.

Rhytm dari lagu-lagunya Seringai, menyerang penuh dan seimbang dari sisi kanan dan menghantam kuping saya, anehnya tanpa ada rasa fatigue dan nusuk.  Saya pikir that’s how a rock song should be heard

Korsa juga menyuguhkan suara drum yang powerful dan imbang, bass drum, snar dan symbal memainkan peranannya masing-masing tanpa tabrakan.  Symbalnya detil, saya sangat terhibur saat memasuki part ropel, buset, perpindahan gerakan stick dari snare-tom-toms-floor tom apik beudh.  Dobel pedal pun tertuntaskan dengan baik.

Di luar masalah drum dan rhytm itu, separasi masing-masing alat musik bisa dikatakan sangat baik.  Background bass terdengar dengan jelas dan bulet tanpa mbeleber kemana-mana. Khusus untuk part melody, saat saya denger part gitar terakhir dari single One – Metallica, setelah dihibur oleh rhytm dan dobel pedal Ulrich, melody mas Hammet meluncur dengan rapi, lengkingannya tak mengganggu aliran rhytm dan drum sama sekali, terlebih dobel melody favorit saya.  Itu asik.

Bagian terakhir, vokal.  Dari beberapa lagu yang saya denger, dari Seringai, Metallica sampai lagu non rock, semacam Solo – Clean Bandit  feat Demi Lovato, itu asik sekali, vokalnya posisinya pas, tidak terlampau maju tapi juga tak menutupi suara instrumen. So, saya pikir untuk lagu-lagu EDM juga nampol nih earbud.

Sekali lagi, saya belum bisa ngasih istilah-istilah teknis dalam review audio karena keterbatasan referensi, walaupun subjektif, saya berusaha objektif sebagaimana telinga saya dengerin.  Kesimpulan saya Korsa ini detil dan separasinya bagus, powerful namun rapi dan megah.  Dan kalau boleh ngomongin soundstage, mungkin ini yang dimaksud gambaran sounstage yang cukup luas.  Gambaran konser S & M (199), saat saya coba lagu Fuel & Wherever I May Roam, suasana panggung dan seluruh instrumen, termasuk orkestranya tergambarkan dengan bagus.

Saat menikmatin Korsa, saya nyoba pake file dengan kualitas HQ di JOOX dan di Apple Music, direct langsung ke iphone 5s yang pake chip Cirrus Logic.  Beberapa lagu saya dengerin pake iphone 3G (Wolfson) yang kadang direct kadang saya pairing dengan amp dari Walnut V2 (opamp Burson v5i)

Ohiya, Korsa 1948 itu saya dikasih pinjem sama kang Fadilla Rama yg mempercayain cansnya untuk diaudisi.  Selain packingnya gagah, bikinannya rapi, pilihan kabel dan jacknya bagus & mewah, saya belum nanya dan belum tahu itu jenisnya apa. Lupa je.

Dan, terakhir, mungkin bisa saya sederhanakan lagi, Korsa is a rockcans* that you must try.

 

/
*rockcans itu bisa-bisanya saya saja, anggap aja gabungan dari kata cans yg ngerock hehe

menunggu Sanju

..dari sekian banyak file film yang pernah mampir harddisk laptop saya, hanya empat film yang tak pernah saya hapus semenjak saya berhasil mendapatkannya.  Keempat film tersebut terpaksa saya koleksi file (bajakannya) karena tak pernah sempat menonton film aslinya dan belum pernah dan tidak tahu cara mendapatkan film aslinya *ngeles*

Empat film tersebut adalah Munna Bhai M.B.B.S, Lage Raho Munna Bhai, 3 Idiots dan PK.  Yha, empat film tersebut disutradarai oleh Rajkumar Hirani, dan sepanjang karir filmnya rasanya dia baru pernah menyutradarai empat film tersebut.  Dan keempat film tersebut penuh dengan simbol dan pesan moral yang bernilai tinggi serta makna yang dalam.

Sejak beberapa tahun yang lalu, lupa tepatnya, memang ada kabar bahwa beliau bakal bikin film kelimanya, yang konon bercerita tentang seorang aktor yang tampil di tiga film yang pernah disutradarainya, yaitu Sanjay Dutt.  Dari sini bisa kebayang kan, darimana judul di atas berasal.

Menurut data IMDB, film Sanju bakal rilis tahun ini, dan saat saya tulisa sudah masuk post produksi.  Sungguh saya tak sabar menunggunya, semoga nanti saat tayang saya pas ada tugas di luar daerah.  Hal ini karena biasanya film India hanya rilis di jaringan CGV.

Jadi, ya orang-orang rame nungguin film raksasa ungu kolektor batu akik, saya sih nunggu Sanju sahaja, yang katanya bakal tayang tanggal 29 Juni tahun ini.

/

*dan setelah saya membaca susunan pemain di Sanju,  makin tak sabar karena melihat nama Boman Irani & Anushka Sharma ada di deretan pemain.. wah.

Tidak penting

..banyak hak tak penting yang saya lakukan di awal Mei ini. Rasanya begitu.

Mau diceritain juga tak terlalu penting. Cuma apa ya, saya masih penasaran ingin belajar nulis yang agak rapi sedikit. Biar bisa protas protes dengan sedikit elegan di halaman opini sebuah koran, misalnya.

Ohiya, bubin LantanG menuliskan sesuatu di halaman depan episode epilog anak-anak mama alin, dan sekarang tulisan itu seakan mulai menjelma nyata. Dan itu sangat menyedihkan.