Sabia, setelah dua minggu

..setelah dua minggu lebih berlalu, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan Sabia di keseharian saya.  Makin lama suaranya makin bagus, makin seksi, sehingga membuat saya berpaling dari earpod, juga akhirnya agak mengabaikan JBL T205.

Bagian lebaynya adalah, saat kemarin si Sabia ketinggalan dalam keadaan masih tercolok di komputer kantor, saat di rumah semacam muncul rasa kehilangan haha.  Lha, ya gimana, makin lama bedanya makin kerasa je.  Untunglah kemarin ada pelipur lara, yaitu kehadiran Sonic Gear Titan 5, yang menutupi kekurangan suara cempreng yang keluar dari tipi.  Nantilah kapan-kapan saya review si Titan itu, yang sedikit menyebalkan, seminggu setelah memilikinya, eh ternyata harganya di salah satu toko turun banyak. Nasib.

 

paramore minggu ini

saya cuma lagi seneng denger Paramore, yang grupnya baru saya ngeh saat liat vidklip Crushcrushcrush dimana lupa, youtube mungkin.  Lalu rasanya menyenangkan melihat penampilan mereka di MTV unplugged.  Sebelumnya saya suka lagu Ignorance itu, dan ternyata makin keren saat dibawakan secara akustik

Kuping saya yang juga labil ini, memang semau-maunya mengganti playlist di DAP (gaya-gayaan pake istilah digital audio player padahal cuma pakai iphone 3G kalau nggak ganti Nokia X1-00, sesekali saja pakai iphone 5S).

Minggu-minggu kemarin saya sempat mengisi playlist dengan lagu-lagunya Band-Maid, tapi kualitas mixingnya banyak yang tak berkenan, jadi dihapus lagi.  Rasanya jarang sebuah lagu bertahan abadi dalam playlist memang.

Apalagi?

Saya lagi capek nyari berkas yang hilang gara-gara kecerobohan saya sendiri sebenarnya, jadi bercerita ngelantur gini.  E bentar, memang pernah saya fokus dalam bercerita?

Yang maha tidak pelit

Padahal ya, sudah tau ilmunya. Tapi kenapa manusia kurang ilmu macam saya ini terkadang mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya sudah ada jawabannya *mbulet

Bahwa, Gusti Allah kui ora sare. Maha pemberi, maha pemurah. Hambanya aja aja yang suka ngeyelan, ndagel, mikir yang ndak-ndak

Simpelnya, mau dikasih banyak, mau minta banyak. Tapi pas ngasih ke sesama dikit, pas diminta pelit. Udah gitu berani berprasangka buruk sama sang pencipta, emangnya kastamu lebih tinggi dari Tuhan sampe bisa segitunya?

Mau hidup lebih, ya kudu ngasih lebih juga. Tuhan di otakmu menjadi pelit tak lebih karena kelakuanmu sendiri yang medit.

Ngerti koen?

——–

*episot misuhin diri sendiri pagi-pagi

memang tidak seharusnya

..atau memang seharusnya.

Jadi, semenjak lulus S2 di 2005, saya mengajukan proposal ngajar di beberapa universitas sini, negeri dan swasta, ceritanya mau belajar ngajar.  Dari beberapa, rasanya cuma ada satu instansi yang memberikan balasan, yang menyatakan bahwa mereka sudah tak memerlukan tenaga tambahan.  Sisanya, entahlah, tak ada feedback sama sekali.  Tak sopan ckck

Kemudian, setahun yang lalu, saat baru lulus sekolah di Jogja, seakan tak kapok, saya kembali mengajukan proposal ngajar ke beberapa lembaga pendidikan.  Dan sampai sekarang juga tak ada respon sama sekali.  Seorang sahabat, yang dekat dengan dunia itu, semenjak dulu, bahkan memang sudah tak memberi respon positif sama sekali.  Entah karena apa.

Lalu saya berkaca. Cukup lama.  Dan berkesimpulan, mungkin memang tidak seharusnya saya disitu, cuma demi entahlah sudah.  Mungkin saya harus belajar dengan cara yang lain di tempat lain, bukan di tempat para akademisi berkumpul.

Mungkin saya memang tak punya kompetensi untuk itu.