tidak bisa login

..barusan, beberapa saat yg lalu saya berniat untuk apdet blog ini.  Tapi anehnya saya tidak bisa login.  Perasaan saya tidak pernah mengganti username dan passwordnya.

Mau reset paswot juga gagal, karena saya baru sadar kalo blog ini tidak pake gmail.  Akhirnya terpaksa gugling dan nemu tutorial reset paswot via cpanel.

Saya coba lagi, masih saja tidak bisa.  Lalu teringat sesuatu, username saya ganti dengan email default hosting ini, yaitu: admin@auk.web.id .. baru setelah itu bisa login.

Apakah mungkin kejadian ini akibat ada dua username yg sama? Entahlah.  Yang jelas tempat kerja yg sekarang, sementara ini ga asik #lah

a Rockcans named Korsa

Apa yang menarik dari sebuah lagu rock? Distorsi!  Dan itu tergambarkan dengan baik oleh earbuds bernama Korsa 1948 dengan codename Hantu Laut, bikinan anak muda bernama Fadilla Rama Widapratama empunya brand Korsa Barracks.

Rhytm dari lagu-lagunya Seringai, menyerang penuh dan seimbang dari sisi kanan dan menghantam kuping saya, anehnya tanpa ada rasa fatigue dan nusuk.  Saya pikir that’s how a rock song should be heard

Korsa juga menyuguhkan suara drum yang powerful dan imbang, bass drum, snar dan symbal memainkan peranannya masing-masing tanpa tabrakan.  Symbalnya detil, saya sangat terhibur saat memasuki part ropel, buset, perpindahan gerakan stick dari snare-tom-toms-floor tom apik beudh.  Dobel pedal pun tertuntaskan dengan baik.

Di luar masalah drum dan rhytm itu, separasi masing-masing alat musik bisa dikatakan sangat baik.  Background bass terdengar dengan jelas dan bulet tanpa mbeleber kemana-mana. Khusus untuk part melody, saat saya denger part gitar terakhir dari single One – Metallica, setelah dihibur oleh rhytm dan dobel pedal Ulrich, melody mas Hammet meluncur dengan rapi, lengkingannya tak mengganggu aliran rhytm dan drum sama sekali, terlebih dobel melody favorit saya.  Itu asik.

Bagian terakhir, vokal.  Dari beberapa lagu yang saya denger, dari Seringai, Metallica sampai lagu non rock, semacam Solo – Clean Bandit  feat Demi Lovato, itu asik sekali, vokalnya posisinya pas, tidak terlampau maju tapi juga tak menutupi suara instrumen. So, saya pikir untuk lagu-lagu EDM juga nampol nih earbud.

Sekali lagi, saya belum bisa ngasih istilah-istilah teknis dalam review audio karena keterbatasan referensi, walaupun subjektif, saya berusaha objektif sebagaimana telinga saya dengerin.  Kesimpulan saya Korsa ini detil dan separasinya bagus, powerful namun rapi dan megah.  Dan kalau boleh ngomongin soundstage, mungkin ini yang dimaksud gambaran sounstage yang cukup luas.  Gambaran konser S & M (199), saat saya coba lagu Fuel & Wherever I May Roam, suasana panggung dan seluruh instrumen, termasuk orkestranya tergambarkan dengan bagus.

Saat menikmatin Korsa, saya nyoba pake file dengan kualitas HQ di JOOX dan di Apple Music, direct langsung ke iphone 5s yang pake chip Cirrus Logic.  Beberapa lagu saya dengerin pake iphone 3G (Wolfson) yang kadang direct kadang saya pairing dengan amp dari Walnut V2 (opamp Burson v5i)

Ohiya, Korsa 1948 itu saya dikasih pinjem sama kang Fadilla Rama yg mempercayain cansnya untuk diaudisi.  Selain packingnya gagah, bikinannya rapi, pilihan kabel dan jacknya bagus & mewah, saya belum nanya dan belum tahu itu jenisnya apa. Lupa je.

Dan, terakhir, mungkin bisa saya sederhanakan lagi, Korsa is a rockcans* that you must try.

 

/
*rockcans itu bisa-bisanya saya saja, anggap aja gabungan dari kata cans yg ngerock hehe

menunggu Sanju

..dari sekian banyak file film yang pernah mampir harddisk laptop saya, hanya empat film yang tak pernah saya hapus semenjak saya berhasil mendapatkannya.  Keempat film tersebut terpaksa saya koleksi file (bajakannya) karena tak pernah sempat menonton film aslinya dan belum pernah dan tidak tahu cara mendapatkan film aslinya *ngeles*

Empat film tersebut adalah Munna Bhai M.B.B.S, Lage Raho Munna Bhai, 3 Idiots dan PK.  Yha, empat film tersebut disutradarai oleh Rajkumar Hirani, dan sepanjang karir filmnya rasanya dia baru pernah menyutradarai empat film tersebut.  Dan keempat film tersebut penuh dengan simbol dan pesan moral yang bernilai tinggi serta makna yang dalam.

Sejak beberapa tahun yang lalu, lupa tepatnya, memang ada kabar bahwa beliau bakal bikin film kelimanya, yang konon bercerita tentang seorang aktor yang tampil di tiga film yang pernah disutradarainya, yaitu Sanjay Dutt.  Dari sini bisa kebayang kan, darimana judul di atas berasal.

Menurut data IMDB, film Sanju bakal rilis tahun ini, dan saat saya tulisa sudah masuk post produksi.  Sungguh saya tak sabar menunggunya, semoga nanti saat tayang saya pas ada tugas di luar daerah.  Hal ini karena biasanya film India hanya rilis di jaringan CGV.

Jadi, ya orang-orang rame nungguin film raksasa ungu kolektor batu akik, saya sih nunggu Sanju sahaja, yang katanya bakal tayang tanggal 29 Juni tahun ini.

/

*dan setelah saya membaca susunan pemain di Sanju,  makin tak sabar karena melihat nama Boman Irani & Anushka Sharma ada di deretan pemain.. wah.

tentang Cadenza

Earbud ini, yang nama panjangnya Heavenly Sounds New Cadenza 2018, bikinan mas Joshua Wisnu, lapaknya bernama ProGraph di Toped, lengkap toh infonya.  Habis baca-baca referensi di grup Eli (earbud lover Indonesia) dan Audio Kere Hore di fb, akhirnya memutuskan untuk membelinya sebagai pelengkap Sabia V5.

Housing-nya ya mirip sama Sabia, standar sejuta umat jare.  Kabelnya yang istimewa. mlintir-mlintir dikepang keren. Deskripsi penjualnya sih pake New Flexi Cable & Gold platted Audio jack, konon lebih bagus kabel dan colokannya, kualitas suara yang dihasilkan juga lebih apik.  Lebih-lebih silverplat di bagian tutup driver menjadikannya terlihat elegan, mewah & berkelas.

Suaranya yang dihasilkan jernih, detilnya dapet dan suara vokal jadi istimewa.  Earbud ini memang tak terlalu menonjolkan sisi bass, jadinya mungkin kurang nendang kalau dipakai denger lagu-lagu rock, tapi sungguh enak untuk santai menikmati suaranya Raisa, Isyana bahkan Egha Latoya hehe

Untuk separasi, deuh istilahnya, saya suka ngedengerin lagu cover Aerodynamic – Daft Punk yang dibawain grup dari entahlah, bisa diliat disitu.. suasana di studionya juga terasa, apa istilahnya.. soundstagenya ya, terdengar jelas & lumayan luas.. nah dentuman bass & drumnya terasa pas disitu, tak berlebihan & keren sekali.  Denting cymbal juga terdengar jelas.. Saya sampai covert lagunya ke mp3 untuk koleksi hehe

Intinya kalau boleh saya gambarkan gini, Cadenza ini jikalau diibaratkan cewek, dia lembut, kalem dan menenangkan.  Kelebihannya ada di penggambaran detil dan kejernihan suara.  Sangat pas menemani di saat pagi, atau menjelang malam, atau saat ingin menyendiri dan tak ingin ditemani siapa-siapa kecuali suara dan musik yang nyaman.

Saat saya coba mendengarkan lagu Geisha yang berjudul Lumpuhkan Ingatanku, saya serasa ngeliat band sedang manggung, sedang saya seakan sedang duduk di sudut cafe menyaksikan mereka, sementara Momo pelan-pelan datang menghampiri sambil terus bernyanyi.  Gambaran yang mungkin terasa berlebihan ya.  Tapi ya seperti jargon temen-temen di grup: percaya kuping sendiri deh, soal imaging gini tiap orang beda-beda soalnya hehe Tapi beneran, suara vokalis lebih terdengar maju dan deket.

Walaupun begitu, untuk genre slow rock dan EDM masih nampol kok, walau perlu bantuan ampli mungkin untuk ngangkat, saya pakai Walnut V2 aja terasa banget kok ajibnya, apalagi pake gear yang lebih lagi ya?

Mungkin begitu saja, bagi yang mengedepankan detail, clarity & keseimbangan suara, earbud ini boleh untuk dilirik.  Kalau selama ini sih, berhasil manjain telinga saya. Ohiya, sedikit tambahan, karena penggambaran detil yang baik, Cadenza ini bagus dipake untuk nonton film 😀

Gear yang dipake untuk ujicoba:

  1. Zishan Z1 (mods potensio dan elco by kang Rama Fadilla)
  2. Iphone 5S
  3. Iphone 3G
  4. Desktop PC Lenovo
  5. Walnut V2 (with Burson V5i) as Amp
  6. Kabel m2m by Orion Studio

Playlist:

  1. Slow Rock
  2. EDM
  3. Pop & vokal

Referensi:

  1. JOOX
  2. Koleksi file dengan format mp3 & flac
  3. Youtube.

 

//Review ini saya bikin sebelum RAW sebenernya, tapi baru berani publish reviewnya setelah edit sana sini./

RAW is rawk

Beberapa waktu yang lalu, ada builder earphone dengan jenis earbud yang menawarkan bikinannya.  Ada dua hal utama yang membuat saya memutuskan untuk ikutan preorder:

  1. Dibikin terbatas, cuma 13 biji, dasar ga bisa ngeliat angka 13 fave saya euy
  2. Buildernya asal Bandar Lampung, baca nama kotanya langsung aja teringat bubin LantanG, penulis idola saya ..

Simpel sekali kan alasan saya, selain tentu penasaran dengan detil yang dijelasin mas Anes di grup Earbud Lover Indonesia (ELI), bikin penasaran.  Mas Anes kui yang bikin earbud yang dikasih nama RAW Soulmate ini.

Setelah paketnya sampai pas hari minggu, isinya earbud dengan bonus pouch dan dua pasang earbud foam, yang terpasang earbud foam bentuk donat, setelah itu langsung saya coba selama kurang lebih jam, yang terasa bass dan vokalnya yang dominan, tapi tak terlalu maju juga, pas pada posisinya.  Tapi impresi awal saya abaikan, karena katanya karakter aslinya baru keliatan setelah di burn in beberapa jam, ckck mau denger musik saja sekarang kok ya ribet haha

Baiklah, akhirnya diburn in sesuai saran para ahli, sambil kadang-kadang sambil didengerin juga, selama kurang lebih 20 jam.  Saya berkesimpulan, RAW ini bener-bener RAWK! Powerful tapi tak menutupi detil.  Separasinya bagus, pemisahan antar instrumen tetap terjaga.  Bassnya beneran bulet dan tak berlebihan.  Dan vokalnya keren, gimana ya ngejelasinnya, artikulasinya jelas tapi tak terlampau maju juga.

Nah, yang bikin saya seneng, pas denger lagu lamanya Mel Shandy: Nyanyian Badai, karakter suara gitar ‘kasarnya’ Totok Tewel di lagu itu keluar dengan apa ya, sesuai harapan saya, belum lagi keyboard mas Jodie Suryoprayogo terdengar megah disitu.  Baru kali ini akhirnya bisa ndengerin lagu itu dengan niqmadh.

Kesimpulan saya RAWK ini beneran powerful dan cukup megah, mungkin termasuk allrounder sekaligus membingungkan.   Soalnya dibilang cenderung warm, karena bassnya cukup menonjol, tapi pas part melody gitar, karakter gitarnya keluar dengan baik, trus detil lagu juga tertangani dengan baik & ga nyakitin telinga walau dipake dengerin lama-lama.  Di sisi lain, dengerin lagu yang nonjolin vokal juga terasa enak.  Membingungkan kan menjelaskannya? 😀

Saya juga nyobain beberapa genre lagu untuk ujicoba, dan saya rasa RAW ini cocok untuk genre Rock, tapi EDM pun dilibas dengan baik, nah khusus untuk lagu-lagu dangdut masa kini, duh suara gendang terdengar apik beudh hehe

Jadi begitulah, ga nyesel punya limited edition earbud yg keren ini.  Dan sengaja review ini ditulis di blog saja, ga berani dimasukin di grup, maklum newbie dalam hal ginian hehe. *)

___

Gear yang dipake untuk ujicoba:

  1. Zishan Z1 (mods potensio dan elco by kang Rama Fadilla)
  2. Iphone 3G
  3. Iphone 5S
  4. Desktop PC Lenovo
  5. Walnut V2 (with Burson V5i) as Amp

Playlist:

  1. Rock (classic, grunge, alternatif)
  2. EDM
  3. Dangdut
  4. Pop & vokal

Referensi:

  1. JOOX
  2. Koleksi file dengan format mp3 & flac
  3. Youtube.

//

*) akhirnya nekat dibagikan di grup, dengan seijin & dukungan builder RAW kui 😀

Ngajarin nabung

Tak ada hal yang baru sebenarnya, saya sudah ngajarin, tepatnya setelah diajarin juga, bagaimana cara nabung yang baik dan bagus.  Jadi sewaktu di Jogja, di tempat ngajinya anak-anak dikasih tabungan, untuk nabung laah. Jadi, semua sisa uang jajan anak-anak, termasuk saat itu, hasil jualan donat bang Ai dan Thor dimasukin situ.  Setelah penuh, bukannya dibeliin apa maunya anak-anak, tapi justru dibalikin ke yang ngasih nabungan, untuk disumbangin.

Saat itu, saya ngasih keyakinan sama anak-anak, bahwa apa yang mereka dapetin nanti, insya Allah bakal lebih keren dari apa yang mereka kasihin.  Dan itu, alhamdulillah beberapa kali terbukti, saat mereka menginginkan mainan, yang saat itu menurut saya cukup mahal, tiba-tiba saja, tanpa disangka ada rejeki untuk membelinya.  Keinginan mereka terkabul begitu saja.

Jadinya mereka anteng aja ngisi tabungan, untuk nantinya isinya dikasihin ke orang lain begitu penuh.

Saat ini pun, saya ingin kembali ngajarin pelajaran sederhana itu, takutnya Q lupa.  Jadi, sekarang sisa uang jajannya dimasukin tabungannya, tapi saya wanti-wanti nanti isinya bakal dikasihin ke orang lain, dan saya bilang: “tenang saja, teh.  Ntar dapet gantinya yang lebih keren, kok”.  Alhamdulillah, mau ngerti anaknya.

Saya yakin itu, the more we give, the more we get.  Ontologinya gitu.

Halagh pake boso londo segala.

Si kecil, si bungsu itu, juga saya ajarin ‘nabung’.  Caranya? Nantilah diceritain kapan-kapan hehe

Sabia, setelah dua minggu

..setelah dua minggu lebih berlalu, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan Sabia di keseharian saya.  Makin lama suaranya makin bagus, makin seksi, sehingga membuat saya berpaling dari earpod, juga akhirnya agak mengabaikan JBL T205.

Bagian lebaynya adalah, saat kemarin si Sabia ketinggalan dalam keadaan masih tercolok di komputer kantor, saat di rumah semacam muncul rasa kehilangan haha.  Lha, ya gimana, makin lama bedanya makin kerasa je.  Untunglah kemarin ada pelipur lara, yaitu kehadiran Sonic Gear Titan 5, yang menutupi kekurangan suara cempreng yang keluar dari tipi.  Nantilah kapan-kapan saya review si Titan itu, yang sedikit menyebalkan, seminggu setelah memilikinya, eh ternyata harganya di salah satu toko turun banyak. Nasib.

 

Review singkat JBL T205 & Sabia v5

Akibat penasaran, akhirnya saya beli dua earbud itu.

Yang satu lebih karena diskonnya yang lumayan di tokopedia ditambah merek ternama, selain tiada review tentang produk itu, jadi mending dibeli saja deh.

Yang kedua dibeli karena itu produk Indonesia dan banyak review yang bernada positif.

JBL T205

Sebagai perbandingan adalah earpod bawaan iphone 5s andalan saya yang bassnya lumayan mumpuni itu, JBL ini bassnya mungkin agak di bawah earpod, tapi untuk detil suara bisa dibilang mantep.  Detilnya dapet, rapi dan balance.

Bentuknya sendiri mirip dengan earpod, cuma lebih besar sedikit, sangat sedikit sekali, nyaris tak kentara.

Dengan harga Rp. 199.500 yang katanya sudah diskon 50% plus bebas ongkir, earbud ini memang patut dipertimbangkan untuk dimiliki.

Sabia v5

Saya tau produk ini sehabis baca reviewnya di grup fb: Earbud Lover Indonesia (ELI), bisa dibaca di situ.  Sepertinya ini produk serius dan menjanjikan, karena sudah terbit beberapa versi.  makin bikin penasaran karena di official storenya sudah sold out.  Untung masih ada yang jual di bukalapak, dapet Rp.150.000 dan bebas ongkir juga.

Kualitas suaranya keren.  Bassnya lebih juara dibanding JBL T205, mungkin sebanding dengan earpod, tapi ini lebih balans, ga bikin kuping sakit, detilnya juga dapet dan megah.

Tak kebayang dengan tampilan earbud yang biasa-biasa saja ternyata output suaranya renyah pisan.  Walau di sisi lain pas dipasang telinga, sedikit lebih enakan JBL, dan jauh lebih pas earpod lagi sih di telinga saya hehe

Kesimpulan sementara, hari ini saya lebih memfavoritkan neng Sabia, selain earpod tentu. Tapi nggak tau besok #lah

cara mudah instal chrome di debian 9

Waktu make Jessie alias debian 8, rasanya pernah iseng nyoba instal google chrome, tapi gagal.  Barusan saya iseng, kepikiran mau nginstal chrome di Stretch.  dan selaku user abal-abal, langsung saja buka google, ohiya di debian saya biasa browsing pake  Firefox ESR, setelah sebelumnya make Iceweasel, browser bawaan debian.  Entahlah apa kepanjangan ESR, males nyarinya haha.  Saya memang penggemar rubah api btw.

Kepikiran instal chrome karena lebih mudah saat mbuka google drive dan bisa posting instagram via chrome, fitur yang sebenarnya baru saya coba sekali sih rasanya.

Sehabis gugling, nemu artikel tentang cara mudah nginstal google chrome di debian 9.  Yaudah saya ikutin saya langkah demi langkahnya.  Sempat gagal sebentar, ternyata kebablasan kopas perintah update, masih pake sudo, lupa kalo sudah pake -su, salahkan petunjuk di link di atas itu hehe

Setelah berhasil diinstal, buka chrome, dengan tampilan seperti di bawah ini:

 

Tampilan sederhana google chrome emang apik.  Tapi entah kenapa saya masih keukeuh make firefox sebagai browser default saya sehari-hari.

Begitulah.  Btw postingan ini dibikin pake chrome, sekalian njajal gitu.

Ngopi.

tadi pagi, ada seorang kawan, bilang (mungkin untuk yang kedua kali) bahwa ingin pinjem dan ngopi (proposal) disertasi saya.  jawab saya: enak aja!

bagaimanapun, itu adalah hasil proses, jadi aduh, kenapa saya pelit begini.  tapi kalau tidak begitu, bagaimana dia bisa menghargai sebuah proses.

lagian, hardcopy disertasi saya tersedia kok di perpustakaan, jadi bisa dipinjem toh.

kemudian, barusan saya baca kisah sedekah lagi, rasa malu menusuk lagi.  saya rasanya akhir-akhir ini banyak keinginan, banyak minta, walau secara tak langsung pada Sang maha, tapi di sisi lain, saya rasanya banyak kurang dalam hal memberi.

saya pikir, mungkin itu juga salah satu pemicu sifat emosian saya yang rasanya semakin menjadi, dan ya saya perlu anger management sepertinya.  Menghela emosi negatif tak semudah yang saya pikirkan, walau terkadang saya masih bisa meredamnya.

mungkin, rajin-rajin menulis seperti ini, paling tidak bisa jadi cermin dan pengingat, akan hal-hal tidak baik tentang saya, biar sedikit banyak bisa nyadar diri..