memang tidak seharusnya

..atau memang seharusnya.

Jadi, semenjak lulus S2 di 2005, saya mengajukan proposal ngajar di beberapa universitas sini, negeri dan swasta, ceritanya mau belajar ngajar.  Dari beberapa, rasanya cuma ada satu instansi yang memberikan balasan, yang menyatakan bahwa mereka sudah tak memerlukan tenaga tambahan.  Sisanya, entahlah, tak ada feedback sama sekali.  Tak sopan ckck

Kemudian, setahun yang lalu, saat baru lulus sekolah di Jogja, seakan tak kapok, saya kembali mengajukan proposal ngajar ke beberapa lembaga pendidikan.  Dan sampai sekarang juga tak ada respon sama sekali.  Seorang sahabat, yang dekat dengan dunia itu, semenjak dulu, bahkan memang sudah tak memberi respon positif sama sekali.  Entah karena apa.

Lalu saya berkaca. Cukup lama.  Dan berkesimpulan, mungkin memang tidak seharusnya saya disitu, cuma demi entahlah sudah.  Mungkin saya harus belajar dengan cara yang lain di tempat lain, bukan di tempat para akademisi berkumpul.

Mungkin saya memang tak punya kompetensi untuk itu.

Mama.

Saya manggil ibu saya dengan sebutan mama. Panggilan yang jamak di kampung saya.

Rasanya tak pernah saya bercerita tentang mama saya di sini.

Mama adalah guru sekolah dasar, yang baru saja pensiun enam tahun yang lalu. Guru yang pola pikirnya begitu lurus dan sederhana..

Kemarin sore, mama minta dijemput, minta nginep di rumah adik, yang rumahnya tak begitu jauh dari rumah saya. Biasanya mama suka begitu saat merasa badannya kurang enak, dan batuk mama sedang parah.

Setelah dijemput, dianter ke rumah adik. Saya pamit pulang.

Sampai tadi malam, jam satu dinihari tepatnya, adik saya nelpon, kalau mama sudah di rumah sakit karena sakitnya mendadak makin parah.

Sesampai rumah sakit. Di ruangan paru. Mama sudah dipasang oksigen. Sudah sangat payah.

Dan bersama adik dan abah. Tepat jam dua dinihari, mengantar mama berpulang ke Maha Pencipta..

..saya tak lagi punya tempat bersimpuh untuk memohon doa..

..innalillahi wainnailaihi rojiun..