menunggu Sanju

..dari sekian banyak file film yang pernah mampir harddisk laptop saya, hanya empat film yang tak pernah saya hapus semenjak saya berhasil mendapatkannya.  Keempat film tersebut terpaksa saya koleksi file (bajakannya) karena tak pernah sempat menonton film aslinya dan belum pernah dan tidak tahu cara mendapatkan film aslinya *ngeles*

Empat film tersebut adalah Munna Bhai M.B.B.S, Lage Raho Munna Bhai, 3 Idiots dan PK.  Yha, empat film tersebut disutradarai oleh Rajkumar Hirani, dan sepanjang karir filmnya rasanya dia baru pernah menyutradarai empat film tersebut.  Dan keempat film tersebut penuh dengan simbol dan pesan moral yang bernilai tinggi serta makna yang dalam.

Sejak beberapa tahun yang lalu, lupa tepatnya, memang ada kabar bahwa beliau bakal bikin film kelimanya, yang konon bercerita tentang seorang aktor yang tampil di tiga film yang pernah disutradarainya, yaitu Sanjay Dutt.  Dari sini bisa kebayang kan, darimana judul di atas berasal.

Menurut data IMDB, film Sanju bakal rilis tahun ini, dan saat saya tulisa sudah masuk post produksi.  Sungguh saya tak sabar menunggunya, semoga nanti saat tayang saya pas ada tugas di luar daerah.  Hal ini karena biasanya film India hanya rilis di jaringan CGV.

Jadi, ya orang-orang rame nungguin film raksasa ungu kolektor batu akik, saya sih nunggu Sanju sahaja, yang katanya bakal tayang tanggal 29 Juni tahun ini.

/

*dan setelah saya membaca susunan pemain di Sanju,  makin tak sabar karena melihat nama Boman Irani & Anushka Sharma ada di deretan pemain.. wah.

Tidak penting

..banyak hak tak penting yang saya lakukan di awal Mei ini. Rasanya begitu.

Mau diceritain juga tak terlalu penting. Cuma apa ya, saya masih penasaran ingin belajar nulis yang agak rapi sedikit. Biar bisa protas protes dengan sedikit elegan di halaman opini sebuah koran, misalnya.

Ohiya, bubin LantanG menuliskan sesuatu di halaman depan episode epilog anak-anak mama alin, dan sekarang tulisan itu seakan mulai menjelma nyata. Dan itu sangat menyedihkan.

tentang Cadenza

Earbud ini, yang nama panjangnya Heavenly Sounds New Cadenza 2018, bikinan mas Joshua Wisnu, lapaknya bernama ProGraph di Toped, lengkap toh infonya.  Habis baca-baca referensi di grup Eli (earbud lover Indonesia) dan Audio Kere Hore di fb, akhirnya memutuskan untuk membelinya sebagai pelengkap Sabia V5.

Housing-nya ya mirip sama Sabia, standar sejuta umat jare.  Kabelnya yang istimewa. mlintir-mlintir dikepang keren. Deskripsi penjualnya sih pake New Flexi Cable & Gold platted Audio jack, konon lebih bagus kabel dan colokannya, kualitas suara yang dihasilkan juga lebih apik.  Lebih-lebih silverplat di bagian tutup driver menjadikannya terlihat elegan, mewah & berkelas.

Suaranya yang dihasilkan jernih, detilnya dapet dan suara vokal jadi istimewa.  Earbud ini memang tak terlalu menonjolkan sisi bass, jadinya mungkin kurang nendang kalau dipakai denger lagu-lagu rock, tapi sungguh enak untuk santai menikmati suaranya Raisa, Isyana bahkan Egha Latoya hehe

Untuk separasi, deuh istilahnya, saya suka ngedengerin lagu cover Aerodynamic – Daft Punk yang dibawain grup dari entahlah, bisa diliat disitu.. suasana di studionya juga terasa, apa istilahnya.. soundstagenya ya, terdengar jelas & lumayan luas.. nah dentuman bass & drumnya terasa pas disitu, tak berlebihan & keren sekali.  Denting cymbal juga terdengar jelas.. Saya sampai covert lagunya ke mp3 untuk koleksi hehe

Intinya kalau boleh saya gambarkan gini, Cadenza ini jikalau diibaratkan cewek, dia lembut, kalem dan menenangkan.  Kelebihannya ada di penggambaran detil dan kejernihan suara.  Sangat pas menemani di saat pagi, atau menjelang malam, atau saat ingin menyendiri dan tak ingin ditemani siapa-siapa kecuali suara dan musik yang nyaman.

Saat saya coba mendengarkan lagu Geisha yang berjudul Lumpuhkan Ingatanku, saya serasa ngeliat band sedang manggung, sedang saya seakan sedang duduk di sudut cafe menyaksikan mereka, sementara Momo pelan-pelan datang menghampiri sambil terus bernyanyi.  Gambaran yang mungkin terasa berlebihan ya.  Tapi ya seperti jargon temen-temen di grup: percaya kuping sendiri deh, soal imaging gini tiap orang beda-beda soalnya hehe Tapi beneran, suara vokalis lebih terdengar maju dan deket.

Walaupun begitu, untuk genre slow rock dan EDM masih nampol kok, walau perlu bantuan ampli mungkin untuk ngangkat, saya pakai Walnut V2 aja terasa banget kok ajibnya, apalagi pake gear yang lebih lagi ya?

Mungkin begitu saja, bagi yang mengedepankan detail, clarity & keseimbangan suara, earbud ini boleh untuk dilirik.  Kalau selama ini sih, berhasil manjain telinga saya. Ohiya, sedikit tambahan, karena penggambaran detil yang baik, Cadenza ini bagus dipake untuk nonton film 😀

Gear yang dipake untuk ujicoba:

  1. Zishan Z1 (mods potensio dan elco by kang Rama Fadilla)
  2. Iphone 5S
  3. Iphone 3G
  4. Desktop PC Lenovo
  5. Walnut V2 (with Burson V5i) as Amp
  6. Kabel m2m by Orion Studio

Playlist:

  1. Slow Rock
  2. EDM
  3. Pop & vokal

Referensi:

  1. JOOX
  2. Koleksi file dengan format mp3 & flac
  3. Youtube.

 

//Review ini saya bikin sebelum RAW sebenernya, tapi baru berani publish reviewnya setelah edit sana sini./

RAW is rawk

Beberapa waktu yang lalu, ada builder earphone dengan jenis earbud yang menawarkan bikinannya.  Ada dua hal utama yang membuat saya memutuskan untuk ikutan preorder:

  1. Dibikin terbatas, cuma 13 biji, dasar ga bisa ngeliat angka 13 fave saya euy
  2. Buildernya asal Bandar Lampung, baca nama kotanya langsung aja teringat bubin LantanG, penulis idola saya ..

Simpel sekali kan alasan saya, selain tentu penasaran dengan detil yang dijelasin mas Anes di grup Earbud Lover Indonesia (ELI), bikin penasaran.  Mas Anes kui yang bikin earbud yang dikasih nama RAW Soulmate ini.

Setelah paketnya sampai pas hari minggu, isinya earbud dengan bonus pouch dan dua pasang earbud foam, yang terpasang earbud foam bentuk donat, setelah itu langsung saya coba selama kurang lebih jam, yang terasa bass dan vokalnya yang dominan, tapi tak terlalu maju juga, pas pada posisinya.  Tapi impresi awal saya abaikan, karena katanya karakter aslinya baru keliatan setelah di burn in beberapa jam, ckck mau denger musik saja sekarang kok ya ribet haha

Baiklah, akhirnya diburn in sesuai saran para ahli, sambil kadang-kadang sambil didengerin juga, selama kurang lebih 20 jam.  Saya berkesimpulan, RAW ini bener-bener RAWK! Powerful tapi tak menutupi detil.  Separasinya bagus, pemisahan antar instrumen tetap terjaga.  Bassnya beneran bulet dan tak berlebihan.  Dan vokalnya keren, gimana ya ngejelasinnya, artikulasinya jelas tapi tak terlampau maju juga.

Nah, yang bikin saya seneng, pas denger lagu lamanya Mel Shandy: Nyanyian Badai, karakter suara gitar ‘kasarnya’ Totok Tewel di lagu itu keluar dengan apa ya, sesuai harapan saya, belum lagi keyboard mas Jodie Suryoprayogo terdengar megah disitu.  Baru kali ini akhirnya bisa ndengerin lagu itu dengan niqmadh.

Kesimpulan saya RAWK ini beneran powerful dan cukup megah, mungkin termasuk allrounder sekaligus membingungkan.   Soalnya dibilang cenderung warm, karena bassnya cukup menonjol, tapi pas part melody gitar, karakter gitarnya keluar dengan baik, trus detil lagu juga tertangani dengan baik & ga nyakitin telinga walau dipake dengerin lama-lama.  Di sisi lain, dengerin lagu yang nonjolin vokal juga terasa enak.  Membingungkan kan menjelaskannya? 😀

Saya juga nyobain beberapa genre lagu untuk ujicoba, dan saya rasa RAW ini cocok untuk genre Rock, tapi EDM pun dilibas dengan baik, nah khusus untuk lagu-lagu dangdut masa kini, duh suara gendang terdengar apik beudh hehe

Jadi begitulah, ga nyesel punya limited edition earbud yg keren ini.  Dan sengaja review ini ditulis di blog saja, ga berani dimasukin di grup, maklum newbie dalam hal ginian hehe. *)

___

Gear yang dipake untuk ujicoba:

  1. Zishan Z1 (mods potensio dan elco by kang Rama Fadilla)
  2. Iphone 3G
  3. Iphone 5S
  4. Desktop PC Lenovo
  5. Walnut V2 (with Burson V5i) as Amp

Playlist:

  1. Rock (classic, grunge, alternatif)
  2. EDM
  3. Dangdut
  4. Pop & vokal

Referensi:

  1. JOOX
  2. Koleksi file dengan format mp3 & flac
  3. Youtube.

//

*) akhirnya nekat dibagikan di grup, dengan seijin & dukungan builder RAW kui 😀

Klangenan Audio

Dadi ngene, halagh.. manusia kui menurut saya kudu punya kesenangan, hobi atau apalah, demi apa? Demi menikmati hari-hari.. okedeh semakin kacau sahaja intro postingan ini

Setelah dulu pernah senang dengan DLSR, akrab dengan sepeda, sekarang saya lagi sok-sokan menyukai perangkat audio portabel, berikut printilannya.

Baru saja, saya menemukan kombinasi gear yang outputnya lumayan detil dan apa ya, bagus lah di kuping saya

Walnut v2 yang saya dapet murah dari lelang di grup audio fb saya jadikan amplifier, dengan penggantian opamp dari stock bawaan menjari Burson V5i Dual yang sebelumnya tertancap di Zishan Z1.

Zishan cuma difungsikan sebagai digital audio player (DAP), kemudian earphone saya juga sekarang ganti dengan Heavenly Sound seri Cadenza yang dengan berat diakui outputnya lebih detil dibanding Sabia V5 andalan saya selama ini.

Jadi, begitulah sementara ini. Entahlah besok, kuping saya masih harus belajar membedakan karakter suara, separasi, soundstage dan lain lain. Masih rada lieur ..

*kiri itu Zishan Z1, kanan adalah Walnut V2, tergeletak di sampingnya adalah Cadenza

Ngajarin nabung

Tak ada hal yang baru sebenarnya, saya sudah ngajarin, tepatnya setelah diajarin juga, bagaimana cara nabung yang baik dan bagus.  Jadi sewaktu di Jogja, di tempat ngajinya anak-anak dikasih tabungan, untuk nabung laah. Jadi, semua sisa uang jajan anak-anak, termasuk saat itu, hasil jualan donat bang Ai dan Thor dimasukin situ.  Setelah penuh, bukannya dibeliin apa maunya anak-anak, tapi justru dibalikin ke yang ngasih nabungan, untuk disumbangin.

Saat itu, saya ngasih keyakinan sama anak-anak, bahwa apa yang mereka dapetin nanti, insya Allah bakal lebih keren dari apa yang mereka kasihin.  Dan itu, alhamdulillah beberapa kali terbukti, saat mereka menginginkan mainan, yang saat itu menurut saya cukup mahal, tiba-tiba saja, tanpa disangka ada rejeki untuk membelinya.  Keinginan mereka terkabul begitu saja.

Jadinya mereka anteng aja ngisi tabungan, untuk nantinya isinya dikasihin ke orang lain begitu penuh.

Saat ini pun, saya ingin kembali ngajarin pelajaran sederhana itu, takutnya Q lupa.  Jadi, sekarang sisa uang jajannya dimasukin tabungannya, tapi saya wanti-wanti nanti isinya bakal dikasihin ke orang lain, dan saya bilang: “tenang saja, teh.  Ntar dapet gantinya yang lebih keren, kok”.  Alhamdulillah, mau ngerti anaknya.

Saya yakin itu, the more we give, the more we get.  Ontologinya gitu.

Halagh pake boso londo segala.

Si kecil, si bungsu itu, juga saya ajarin ‘nabung’.  Caranya? Nantilah diceritain kapan-kapan hehe

QRDJK

Sahibul hikayat. Sewaktu di Jogja, pernah ada blogger kondang, salah satu yang ingin saya temui, dateng.  Saya tak tahu persis kapan dan dimana.  Dan tau-tau, beberapa waktu kemudian, seorang blogger yang lain bercerita kalau sehari sebelumnya, sudah bertemu dan ngobrol nyaris seharian dengan orang yang ingin saya temui itu.  Sedikit menyebalkan memang, mending tak usah pakai cerita-cerita sekalian.  Atau paling tidak memberitahu kapan dan dimana gitu, toh saya bisa berangkat sendiri. Tapi entahlah.

Kemudian, kemarin.  Salah seorang penulis kondang.  Memang sudah pernah bertemu, melihat dari jarak cukup dekat tepatnya, sewaktu di Jogja.  Tapi kemarin, penulis itu mampir di kota saya dalam suatu acara.

Lalu, ada suatu momen, penulis itu pergi ke suatu tempat. Bersama beberapa kawan. Konyolnya, saya tau hal itu dari postingan orang di sosial media.

Sedikit menyebalkan. Kenapa saya harus tahu tentang itu. Mending tak tahu apa-apa. Tapi, saya tak kecewa. Karena toh kalaupun misalnya diajak, saya tak bisa berangkat karena sibuk jagain anak-anak.

Tapi, masalahnya, dua kali kejadian, diajak aja ngga. Itu kan sungguh nganu 😅

Domain expired

Domain saya ini ternyata expired kemarin, lalu dapet email pemberitahuan, dan konyolnya saya langsung main transfer saja tadi pagi.  Saat ngebuka blog ini eh ga bisa, trus cek status domain, eh expired.  Sedikit panik.  Lalu menghubungi CS masterweb.

Ternyata masih ada tenggang waktu sampai besok, pembayaran saya tadi pagi pun bisa dikonfirmasi, terus akhirnya saya bisa posting lagi

 

haduh postingan apaan ini, tak beraturan sama sekali.

Flashdisk yang read only di debian

Jadi, flashdisk punya honey kui pas dicolokin ke fujitsu saya yg masih pakai debian ini ga bisa kebaca, akhirnya gugling cara formatnya via terminal.  Coba ini itu, bisa keformat, tapi giliran mau tes masukin file eh error.  Ada keterangan: flashdisk ente read only ..

Gugling lagi.  Coba ini itu lagi.

Sampai akhirnya ada yang nyaranin pake Gparted, akhirnya instal ulang Gparted yang ikut teruninstall gara-gara upgrade debian 9.  Trus format ulang pake ntfs.  Gagal.  Format lagi pake Fat32, akhirnya berhasil.

Ternyata gitu aja.