shut up.

rasanya. akhir-akhir ini saya kebanyakan ngomong.  banyak ngomong hal-hal yang tak berfaedah. saya ingin menguranginya, niat yang terbentuk entah sejak kapan.  tapi tetap saja, mulut saya susah untuk dikontrol. literally maupun laterally.

rasanya saatnya sesekali, atau malah lebih sering lagi menyepi lagi dari segala hirukpikuk ini.  masalahnya, seringkali pula saya malas kemana-mana.  lebih nyaman berada di rumah rasanya.

apapun. prioritas sekarang adalah lebih banyak menutup mulut. dimana pun. sebisanya. terkecuali, mungkin menuliskannya disini. mungkin.

diblok.

beberapa waktu yang lalu, saya berkomentar di fb seorang kawan, tapi setelah baca ulang, rasanya ada yang kurang sreg, komen itupun saya hapus.

tak berapa lama, kawan saya tersebut, membuat status kalau merasa aneh bahwa kadang ada notif komentar tapi tiada pas mau dibuka.  Saya pun ngerasa (mungkin) itu komentar saya barusan, jadi saja saya kasih reply bahwa “tadi saya komen, lalu saya hapus lagi”.

kemudian berlanjut, balesan beliau yang intinya : “ngapain komen sendiri dihapus, mending kan ga komen” ,
saya reply lagi : “lha ya komen2 saya, yg ngehapus jg saya, bebas dong..”

lalu gara-gara obrolan yang menurut saya ga penting-penting amat, dan saya juga tak punya tendensi apa-apa terhadap hal itu, berlanjut dengan pemblokiran semua akun sosmed saya, yang baru ketahui belakangan.

ya tidak masalah juga sih.  lagian saya ini siapa juga.  cuma bingung saja, itu kawan lama, dan rasanya tak pernah punya masalah apa-apa, masa hanya gara-gara komentar yang tak jelas juntrungannya, lalu pertemanan terhalang dinding yang bernama ‘blok’.

saya hidupnya nothing to loose, saja, mau berkawan atau bermusuhan dengan saya, di dunia internet maupun di dunia nyata ya tak ada masalah.  tak pernah keberatan.  tiada ruginya juga buat siapa-siapa.

saya cuma bingung.
itu saja.

posting lagi

terakhir posting disini tanggal 21 Juni.
entah kenapa kemarin ada yang error, username yang berubah dengan sendirinya, saat paswot dirubah, bisa sebentar dibuka lalu error lagi, lebih parahnya saya ga bisa masuk cPanel.  Entah ada apa dengan hosting ini, yang juga terasa sekarang saat dibuka loadingnya lumayan lama.

padahal cuma mau misuh sebentar, kalau tempat kerja suasananya sedang ga asik, jadi pengen cepat-cepat pindah rasanya.  banyak orang yang kerja cuma gara-gara mandang duitnya doang, padahal itu duit siapa untuk siapa buat apa juga.

sudah begitu saja.

tentang konfrontasi

..sedari dulu, rupanya saya terlahir untuk lebih menghindari konfrontasi daripada menghadapinya, apalagi melawannya, terkecuali dalam keadaan sangat terpaksa..

saya suka lelah dengan hal-hal sepele yang bisa jadi pemicu masalah, konfrontasi, perang, atau apapun.  Mending diam lalu menjauh dan mencari tempat senyap untuk bertanya-tanya sendiri, kenapa harus begitu, kenapa harus jadi gitu, dan banyak kenapa yang lainnya..

mungkin saya yang memang tak bisa memahami apa maunya orang-orang, mungkin begitu juga sebaliknya.

tapi terus terang, saya lelah dengan segala konfrontasi yang harus dihadapi, sepertinya saya memang terlahir untuk tak pernah siap menghadapi peperangan, sekecil apapun.

cemen.

ke Bogor (lagi)

..saat ramadhan, nenek istri saya yang di Cicurug, Sukabumi itu kabarnya sakit, tapi mendadak katanya sehat dan membaik kondisinya saat honey bilang insya Allah ntar lebaran mau nengok beliau

Jadi aja akhirnya diniatin untuk mudik ke kampung halaman honey, kebetulan si barep Thor dan bang Ai sedan libur sekolah juga.  Jad aja cari-cari tiket untuk setengah lusin manusia hehe.  Alhamdulillah rejekinya dicukupkan untuk beli tiket pesawat yang lagi edan-edannya.  Kebetulan dapet harga yg cukup lumayan di hari kedua lebaran.

Tak hanya keluarga saya, mertua dua-duanya juga ikut mudik, ditambah keluarga adik ipar, terakhir saya ngajak abah juga untuk ikutan.  Total jenderal 14 orang yang mudik.

Nginep di rumah mertua adik ipar, lalu mengarungi macet ke rumah nenek di Cicurug, nginep dua malem disitu, trus balik lagi ke Bogor yang dilanjut piknik ke Kebon Raya Bogor! Kebun yang tak pernah bosen-bosennya saya datengin, menyenangkan rasanya sudah jalan-jalan di dalamnya.

Sebenernya, ke kota Bogor saja sudah cukup menyenangkan buat saya, udaranya, orang-orangnya, jalanannya, selalu menyenangkan untuk dinikmati.  Bahkan sekedar muter-muter naik motor keliling kota kecil yg padat itu sudah lebih dari cukup buat saya.  Tentu sembari nostalgia yang tak habis-habisnya hehe

Dan jam satu dinihari tadi saya pulang duluan, demi waktu masuk kerja yang maksa banget, padahal belum efektif juga, ya sayanya juga sih yang masih males langsung ngurusin kerjaan hehe.

Oiya, kemarin itu dari Cicurug ke Bogor, merupakan pengalaman pertama saya nyetir di sana, deg-degan, selain keder sama macetnya, juga takut apa-apa sama mobil dapet minjem dari mamang disana.  Untunglah lancar.

Impresi yang Subjektif

..beberapa waktu terakhir, saya suka sok-sokan ngasih impresi atas apa yang saya dengarkan via kuping. Ngasih impresinya di grup yang isinya orang-orang yang suka ‘suara’ bagus pula.

Jujur, sebenarnya saya keder sendiri saat bikin impresi, soalnya apa yang saya tuliskan itu benar-benar subjektif, sesuai dengan apa yang saya rasakan, yang jelas sekali referensi saya sangat terbatas juga.  Lebih-lebih saya masih tak bisa ngasi istilah-istilah teknis yang rada njelimet kui.

Makin keder lagi, akhirnya pada ngasih komentar, minta komparasi dengan ini itu, hedeh.  Mudah-mudahan pada ngerti bahwa indera seseorang punya sensitivitas yang beda-beda. Membagi impresi yang saya rasakan, tak lebih menuliskan dan menyimpulkan kembali. Dan sekali lagi teramat sangat subjektif, lha respondennya saya sendiri, merangkap analis dan penulis #halagh

Filosofi perjalanan Bluebell

Terhadap sebuah buku, ada dua perlakuan yang jamak saya lakukan: membacanya secepat mungkin-biasanya dikarenakan penasaran akan ending ceritanya, atau membacanya pelan-pelan. Dua macam perlakuan itu juga terkait ‘berat’ atau ‘ringan’ nya isi sebuah buku.

Buku 30 Hari Bersama Bluebell adalah semacam anomali, ceritanya mungkin agakt ‘ringan’, kisah perjalanan sepasang manusia penuh cinta berkeliling Britania Raya. Tapi saya harus membacanya pelan, dan perlu konsentrasi lebih mencermati bagian-bagian kisah setiap leg-nya.

Ya, alih-alih menggunakan kata Bab, penggunaan kata ‘leg’ sendiri sudah mengusik cerita perjalanan yang tak biasa itu.

Singkatnya, buku 30 hari bersama Bluebell, atau saya singkat Bluebell saja ya, adalah sebuah kisah perpisahan sebuah mobil biru -yang karena kebijakan negara setempat, harus ditiadakan karena kondisinya- dengan pemiliknya, yaitu mas Nick, suami dari mb Arie, penulis buku itu.

Sebelum Blubell -nama sang mobil- pensiun, kedua pengendara setianya itu ingin mengajaknya berkeliling ke penjuru Inggris, berziarah ke tempat leluhur, napak tilas jejak-jejak mereka sendiri, sekaligus menikmati kearifan lokal, selain meresapi kebersamaan mereka sendiri.

Tak cukup sampai disitu, tiap bagian buku juga bercerita tentang tempat, tentang jalan, tentang sejarah, tentang kisah, tentang-tentang .. ya tentang macam-macam hal menarik yang terjalin dengan apik. Dan semua dituliskan dengan detil, kentara sekali kualitas penulisnya yang sudah terasah menulis ‘rahasia’ di balik sebuah tempat, bahkan sebuah ruas jalan.

Yang menarik, saya jadi ikutan nostalgia, teringat akan cerita-cerita pendek, atau serial di makalah Hai sepanjang era 90-an. Seringkali dalam sebuah kisah menyelipkan detil atau bahkan sejarah sebuah tempat, yang membuat pembaca penasaran ingin menelusuri sudut-sudut tempat yang dituturkan penulisnya. Misal balada si Roy-nya Gola Gong yang berkisah tentang Banten, atau anak-anak Alin-nya bubin LantanG yang berkisah tentang kota Bandar Lampung. Saya jadi membayangkan seberapa penuh isi logbook dalam perjalanan Bluebell ini.

Lebih dari itu, di sela-sela perjalanan mengunjungi kastil, pantai, kota, pedesaan, bermacam kondisi jalan dan cuaca, buku ini juga secara halus adalah sebuah memoar dan labirin ingatan perjalanan dan hidup penulisnya. Seringkali melintas cerita tentang potret sesepuh, potret seorang kawan, potret masa lalu, dan segala potret-potret hal-hal yang kadang kita anggao remeh padahal mengambil peran penting dalam hidup. Misalkan saja kisah tentang sepasang carrier, yang rupanya menghiasi kisah petualangan Arie dan Nick, yang terpaksa tak diikutsertakan dalam perjalanan dengan alasan kepraktisan.

Kisah di sepanjang halaman 70-an itu mengusik ingatan saya akan carrier biru hijau saya yang sekarang entah dimana, dan ujug-ujug menggugah saya untuk membeli carrier baru lagi, siapa tahu nanti suatu saat bisa menemani saya menapaktilasi jejak Bluebell nun jauh di sana.

Bagian lain, yang paling penting, buku ini sebenarnya bercerita tentang cinta, sebenar-benarnya cinta, yang seakan tak kentara terpulas dalam setiap leg-nya. Mas Nick dan mb Arie mengajarkan -secara tak langsung- bagaimana cara menghargai pasangan, mencintainya dengan tulus, dengan jujur dan prasangka yang baik.

Juga cinta terhadap sebuah tempat, kepada keluarga, bahkan kepada benda, terutama pada tokoh utama kisah ini: sang Bluebell.

Terbayang oleh saya bagaimana segala napas cinta itu dihembuskan dalam kata-kata, napas-napas kalimat yang berhasil mentransferkan emosi penulisnya pada saya. Sampai saya mengakhiri halaman terakhir dengan berkaca-kaca. Perpisahan dengan Bluebell digambarkan dengan apik, walau membuat hati saya ikutan runtuh.

Terakhir, selain berisi beberapa trik perjalanan, tempat-tempat unik semisal latar kisah Lima Sekawan karya Enyd Blyton atau tempat syuting film Harry Potter atau ruas jalan bernama keluarga mas Nick, buku ini bagi saya berisi penuh filosofi perjalanan, tak sekedar perjalanan mengelilingi sebuah negara atau benua, tapi bagaimana menyikapi & menikmati perjalanan hidup di dunia yang teraat singkat ini.

Terimakasih untuk Ukirsari, atas perjalanan epiknya. Ditunggu kisah-kisah menarik berikutnya. Salam.

-bjb, 090618-

tidak bisa login

..barusan, beberapa saat yg lalu saya berniat untuk apdet blog ini.  Tapi anehnya saya tidak bisa login.  Perasaan saya tidak pernah mengganti username dan passwordnya.

Mau reset paswot juga gagal, karena saya baru sadar kalo blog ini tidak pake gmail.  Akhirnya terpaksa gugling dan nemu tutorial reset paswot via cpanel.

Saya coba lagi, masih saja tidak bisa.  Lalu teringat sesuatu, username saya ganti dengan email default hosting ini, yaitu: admin@auk.web.id .. baru setelah itu bisa login.

Apakah mungkin kejadian ini akibat ada dua username yg sama? Entahlah.  Yang jelas tempat kerja yg sekarang, sementara ini ga asik #lah

review IEM Pioneer SE-C3T

Jujur. Pioneer SE-C3T saya beli gara2 nama & harga diskonnya. Selain itu saya penasaran pengen nyoba IEM. Housing aluminium, kabel OFC, 4 ukuran eartips, jd pertimbangan lainnya.

Pertama dateng, coba sebentar, nyocokin ke kuping, denger sekilas, lalu memutuskan burn in.

Setelah dibiarin sama iphone 3G selama kurang lebih 20 jam. Dan sambil terus didengerin setengah harian, akhirnya memberanikan diri bikin impresi sesuai apa yg kuping saya rasakan.

Menurut saya karakternya termasuk flat sedikit bright. Separasi instrumen dll lumayan bagus, detilnya juga bagus.

Vokal terdengar pas, tak terlalu maju, saya bisa membedakan suara latar dengan vokal utama, bahkan lagu dengan tiga layer vokal bisa terdengar dengan baik.

Suara bass cukupan laah. Tidak terlalu nonjok tapi enak, porsinya sebagai latar musik pas dan tak berlebihan.

Treble asik. Simbal dan tamborin terdengar jelas, tak tertutupi instrumen lain. Melody & rhythm gitar cukupan, mungkin tidak terlalu pas untuk rock n roll yg perlu saus pedas level tinggi.

Kesimpulan saya. Vokalan bagus. Lagu2 slow rock/pop bagus. Akustikan enak. Tak begitu cocok utk yg mendewakan unsur bass. Walo begitu lagunya mb Nella asik jg, gendangnya cukup nampol hehe

Saya audisi lebih sering pake iphone 5s, sering direct, kadang2 pairing sama walnut v2. Beberapa lagu pake zishan z1. Dan saya merasa kualitas/format lagu benar2 mempengaruhi output IEM yg skarang harganya sdh balik normal 235rb lg.

Overall tak rugi lah utk dikoleksi. Oiya, walaupun impedancenya cuma 16 ohm, saya perlu buka volume ip 5s sampai di atas 70% baru kedenger potensi suaranya.

Sebagai tambahan, karena ada tombol utk mic, jd gampang utk mindah lagu, tinggal dobel klik, atau satu klik utk pause.

/beberapa lagu yg saya pake utk tes:

via JOOX (HQ):

Baby I’m gonna leave you – Led Zeppelin
Dilarang di Bandung- Seringai

via Zishan Z1 (v6 classic)+walnut v2 (v5i):

Konco mesra – Nella Kharisma (mp3)
New Rules & IDGAF – Dua Lipa (flac)

Apple Music:

Solo – clean bandit feat demi lovato
No tears left to cry – ariana grande

(Dan beberapa lagu lain yg saya lupa listnya)

Demikian review saya sementara. Semoga berkenan. #TrustYourEars

//review ini adalah postingan saya di grup fb Audio Kere Hore.

a Rockcans named Korsa

Apa yang menarik dari sebuah lagu rock? Distorsi!  Dan itu tergambarkan dengan baik oleh earbuds bernama Korsa 1948 dengan codename Hantu Laut, bikinan anak muda bernama Fadilla Rama Widapratama empunya brand Korsa Barracks.

Rhytm dari lagu-lagunya Seringai, menyerang penuh dan seimbang dari sisi kanan dan menghantam kuping saya, anehnya tanpa ada rasa fatigue dan nusuk.  Saya pikir that’s how a rock song should be heard

Korsa juga menyuguhkan suara drum yang powerful dan imbang, bass drum, snar dan symbal memainkan peranannya masing-masing tanpa tabrakan.  Symbalnya detil, saya sangat terhibur saat memasuki part ropel, buset, perpindahan gerakan stick dari snare-tom-toms-floor tom apik beudh.  Dobel pedal pun tertuntaskan dengan baik.

Di luar masalah drum dan rhytm itu, separasi masing-masing alat musik bisa dikatakan sangat baik.  Background bass terdengar dengan jelas dan bulet tanpa mbeleber kemana-mana. Khusus untuk part melody, saat saya denger part gitar terakhir dari single One – Metallica, setelah dihibur oleh rhytm dan dobel pedal Ulrich, melody mas Hammet meluncur dengan rapi, lengkingannya tak mengganggu aliran rhytm dan drum sama sekali, terlebih dobel melody favorit saya.  Itu asik.

Bagian terakhir, vokal.  Dari beberapa lagu yang saya denger, dari Seringai, Metallica sampai lagu non rock, semacam Solo – Clean Bandit  feat Demi Lovato, itu asik sekali, vokalnya posisinya pas, tidak terlampau maju tapi juga tak menutupi suara instrumen. So, saya pikir untuk lagu-lagu EDM juga nampol nih earbud.

Sekali lagi, saya belum bisa ngasih istilah-istilah teknis dalam review audio karena keterbatasan referensi, walaupun subjektif, saya berusaha objektif sebagaimana telinga saya dengerin.  Kesimpulan saya Korsa ini detil dan separasinya bagus, powerful namun rapi dan megah.  Dan kalau boleh ngomongin soundstage, mungkin ini yang dimaksud gambaran sounstage yang cukup luas.  Gambaran konser S & M (199), saat saya coba lagu Fuel & Wherever I May Roam, suasana panggung dan seluruh instrumen, termasuk orkestranya tergambarkan dengan bagus.

Saat menikmatin Korsa, saya nyoba pake file dengan kualitas HQ di JOOX dan di Apple Music, direct langsung ke iphone 5s yang pake chip Cirrus Logic.  Beberapa lagu saya dengerin pake iphone 3G (Wolfson) yang kadang direct kadang saya pairing dengan amp dari Walnut V2 (opamp Burson v5i)

Ohiya, Korsa 1948 itu saya dikasih pinjem sama kang Fadilla Rama yg mempercayain cansnya untuk diaudisi.  Selain packingnya gagah, bikinannya rapi, pilihan kabel dan jacknya bagus & mewah, saya belum nanya dan belum tahu itu jenisnya apa. Lupa je.

Dan, terakhir, mungkin bisa saya sederhanakan lagi, Korsa is a rockcans* that you must try.

 

/
*rockcans itu bisa-bisanya saya saja, anggap aja gabungan dari kata cans yg ngerock hehe