Content

berbagi jejak…

Jembatan Rusak

21 October 2009 - Filed under sesuatu

Kmaren, saya ikut rombongan kantor sebelah. Melawat ke kota kabupaten sebelah, dalam rangka walimah perkawinan staf kantor sebelah itu.
Jadilah saya ikut naik bis berkapasitas kurang lebih 25 tempat duduk. Saya langsung ambil porsi duduk paling belakang. Soalnya pandangan lebih luas dan menjangkau ke segala sudut.

Bis pun melaju, dengan kecepatan yang terus bertambah, terlebih setelah lepas jalan raya menuju jalan dua jalur yang serasa jalan tol. Tapi ternyata tidak senyaman yang dikira, walaupun seru. Saat melewati jalan yang rada rusak, sang sopir tetap saja cuek tancap gas, akibatnya empat orang lelaki di bagian paling belakang terguncang, terpantul, terombang-ambing nggak jelas, ya termasuk saya tentunya. Sampai-sampai saya rasa pantat ini sudah tidak berbentuk lagi.

Tapi the show must go on.
Nah, di sepanjang jalan itu, bis yang ditumpangi sekiatar 20-an manusia ini juga melewati beberapa, eh banyak jembatan-jembatan kecil dan beberapa jembatan besar yang melintang di atas beberapa sungai yang besar dan banyak sungai yang kecil.

Dan kawan di sebejlah saya pun nyeletuk ” Banyak jembatan yang rusak, ya..” Katanya.

akibatnya memang guncangan yang terasa di bagian belakang bis itu makin sadis.

Saya pun menanggapi celetukannya, sekaligus membesarkan hatinya
” Yah, biarlah beberapa jembatan rusak, belum sebanding dengan berpuluh kilometer jalan yang bagus yang kita lewati ini “.

Maksud saya, kadang kita mengeluh akan hal kecil yang menganggu, sampai kadang melupakan hal yang besar yang membantu.
Contohnya pas melintasi jalan yang lumayan bagus tadi, seakan-akan kenyamanan jalan mulus itu terganggu hanya karena beberapa jembatan yang rusak.

Mungkin, seringkali dalam kehidupan ini kita juga begitu. Mengeluh ini itu. Merasa kurang ini kurang itu.
padahal tak terhitung dan tak sebanding dengan segala kenyamanan yang didapatkan selama hidup di dunia.

Pas lagi pilek, kadang ngeluh hidung mampet, susah nafas. Coba kalo mau difikir, berapa lama sih frekuensi pilek itu melanda hidung kita ? Bandingkan dengan waktu kita menghirup udara dengan lega.
Paling nggak bersyukur bisa pilek, jadinya bisa berharap mendapatkan saupan oksigen segar lagi, dan mensyukuri udara gratis yang kita hirup itu.

Saya teringat dengan cerita Nabi Ayyub AS, yang kurang lebihnya saat mendapat cobaan dari Allah SWT. Iblis pengen ngetes ketabahannya.
Nabi Ayyub yang dulunya kaya raya, sehat, gagah dengan keturunan yang banya dan baik. Tiba-tiba dicoba dengan berbagai musibah. Dari segala harta bendanya yang musnah, anak-anaknya yang wafat sampai dengan mendapat penyakit yang tak kunjung sembuh.

Istri beliau pun mengeluh dengan keadaan yang bertolak belakang dengan kehidupan serba ada sebelumnya.
Dan kata Nabi Ayyub AS, ” Coba kau hitung berapa tahun kita menderita dengan segala cobaan dari-Nya, lalu hitung pula berapa tahun pula kita mendapat limpahan rahmat dari-Nya ? Pantas nggak kita mengeluh dengan sgala yang gak ada bandingannya itu ? ”

Endingnya ya, ketabahan tentu membuahkan hasil, tentu dengan tetap bermunajat dan percaya dengan ketentuan dari-Nya.

Manusia memang suka sok tahu dengan kehidupan yang dialami dan dijalaninya, ya itulah manusia, makanya dikasih nama manusia. Yang selalu jarang merasa cukup dengan apa yang sudah didapat dan dinikmatinya.

dan ya itu, dapat sedikit musibah saja kadang malah suka berprasangka buruk dengan-Nya. Padahal udah tau sendiri kalau Allah SWT gak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya..

Tapi sekali lagi, itulah manusia.
Yang memang harus teerus belajar di sepanjang hidupnya, belajar untuk menghargai hidup …

Tagged:

2009-10-21  »  warm

Talkback x 14

  1. adipati kademangan
    21 October 2009 @ 11:09

    bener banget om warm, jangan sampai kejadian yang tidak enak itu menghapus segala kenikmatan yang sudah kita rasakan dulu.

    ReplyReply
  2. nia
    21 October 2009 @ 11:59

    sip .. jd kemarin naik bis itu lagi kondangan to ceritanya omm???

    ReplyReply
  3. warm
    21 October 2009 @ 12:34

    @ adipati
    ah, tepat skali. bos

    @ nia
    begitulah kenyataannya, bu :)

    ReplyReply
  4. carra
    21 October 2009 @ 15:46

    0akibatnya empat orang lelaki di bagian paling belakang terguncang, terpantul, terombang-ambing nggak jelas, ya termasuk saya tentunya.

    tapi ga rontok kan om tuh tulang2…??? makanya makan yg banyak… biar kalo terguncang2 lagi tuh landasan landing nya rada2 empuk gituh..,

    *dilempar brutu ayam*

    ReplyReply
  5. queen
    21 October 2009 @ 18:15

    TEPAT sasaran, duuuuuuhhh makasi ini om jadi diingetin.

    do not misuh misuh 4 small unexpected things

    ReplyReply
  6. elia bintang.
    22 October 2009 @ 03:28

    jadi inget waktu dulu di sumatera. ada jembatan2 yg udah lapuk kayunya. padahal bawahnya itu sungai yg lumayan deres.. :D

    ReplyReply
  7. aji
    22 October 2009 @ 09:30

    aji juga sering mengeluh untuk sesuatu yang remeh, padahal mestinya lebih banyak bersukur.

    ReplyReply
  8. latree
    22 October 2009 @ 09:50

    tabah ah…. paling juga 2 bulan lagi….
    *ambruk lagi*

    ReplyReply
  9. aap
    22 October 2009 @ 10:53

    Yang penting jalan-jalan om..!

    ReplyReply
  10. Nengthree
    22 October 2009 @ 19:51

    Subhanallah sampe ke situ..
    4 tumbs up for you

    ReplyReply
  11. liza
    23 October 2009 @ 00:14

    setiap sesuatu yang ada di dalam hidup ini pasti ada maksudnya… Allah ngga pernah menjadikan sesuatu itu yang sia2, smua pasti ada ibrah nya..

    salam kenal ya :)

    ReplyReply
  12. pakacil
    23 October 2009 @ 23:20

    soal hidup sih memang mesti dihargai.
    tapi soal anggaran membangun jembatan, itu tentu lain soal, pantas sangat kita mengeluh atau bahkan protes.
    :roll:

    ReplyReply
  13. Zulhaq
    31 October 2009 @ 09:50

    hidup terus berjalan, mengiringinya pun harus sellalu dengan pembelajaran dalam memaknainya

    ReplyReply
  14. Zulhaq
    31 October 2009 @ 09:52

    haiahhh, komennya ilang

    ReplyReply

Share your thoughts







;)) :(( :D :grr: :) more »