manjain kuping.

setelah beberapahari didera urusan kantor yang cukup menguras kesabaran, akhirnya ini malam bisa sedikit santai.  kembali berusaha menikmati musik setelah beberapa lama terlupakan.

akhirnya kembali nyolokin ampli Walnut V2 yang dicolokin Burson V6 classic yg kmaren sempet mau dijual gara2 pengen upgrade part sepeda.  Untunglah ngga jadi dijokul, itu opamp soalnya kalo urusan detil suara ajib bener.

ampli dicolok ke leptop fujitsu jadul, trus sebentar tadi nyobain puter ulang beberapa koleksi videoklip, abis itu mutusin muter youtube sajalah.

pake earphone Qlabs sempet juga sedikit sesal ngejual koleksi headphone Audio Technica kmaren, tp ysudahlah, sering tak bisa menikmatinya juga sementara ini.  Nantilah kalo pas pengen make headphone lagi, tinggal beli lagi

halagh nggaya!

gaptek.

lagi-lagi, rasanya ini untuk ketiga atau keempat kalinya, masa saya tidak bisa login ke blog ini, dan kembali terpaksa merubah paswot via cpanel. sungguh hedeh sekali.

apa gara-gara shared hosting, atau gara-gara apa, saya ngga ngerti, lah awalnya malah username juga dipaksa berubah, jadi yg awalnya cuma auk menjadi admin@auk.web.id

oi, kenapa lah ini.

petrichor.

kira-kira menjelang jam sembilan malam, saya beranjak naik motor ke rumah seorang kawan, lewat jalanan yang cukup sepi dan lengang, sampai-sampai di beberapa ruas saya dapat mencium aroma dedaunan, dan aroma alam sehabis dibasahi hujan tadi sore. dingin.

bertemu dengan setengah lusin kawan satu angkatan kuliah, makan-makan sebentar sesuai undangan tuan rumah, lalu menggelar obrolan di teras rumahnya.

seperti biasa, obrolan mesti berkisar tentang nostalgia dengan kawan-kawan satu angkatan, tak lupa tentu membuka aib sana-sini.  sambil mengingat-ingat kelakuan masa lalu, saya cuma sesekali menimpali dan menambahkan cerita.  senang melihat kawan banyak yang sukses, bagus jalan hidupnya.  walau teringat kisah hidup beberapa kawan yang tak tertebak, lalu tentang beberapa kawan yang sulit untuk dihubungi apalagi ditemui.

obrolan juga menjalar tentang betapa hidup diatur oleh beberapa pengusaha yang notabene orang berduit, kisah klasik yang entahlah, karena saya juga kurang cukup bukti.  tapi mereka meyakinkan.  bahwa hidup di kampung, di luar pulau jawa, seakan-akan hidup sudah ditentukan dan diatur oleh hanya beberapa orang.

mengingat-ingat itu, sungguh saya merasa persoalan di kantor yang akhir-akhir ini sedikit pelik dan membosankan, adalah tidak ada apa-apanya.

di satu sisi saya sedikit lega, di sisi lain membuat sedikit kecewa, setengah mati kerja (paksa) dan mempertahankan ideologi, di sisi lain dunia ada orang yang tertawa-tawa saja mengatur jalan hidupnya.

tapi sungguh, aroma dedaunan di jalanan, udara yang dingin sepanjang jalan pulang, sisa-sisa obrolan dengan kawan, menghibur pikiran saya yang beberapa hari terakhir sungguh kusut memikirkan suasana kantor yang membingungkan.  sampai-sampai saya merasa sedikit kehilangan kesadaran akan sekeliling saya.  bahwa sebenarnya masih ada orang-orang yang menunggu saya pulang.

sedikit lupa bahwa saya punya kehidupan sendiri untuk dinikmati. dan yang paling bahaya, suasana kantor terkadang membuat saya seakan dicuci otak hingga lupa untuk bersyukur.

sungguh terimakasih, untuk sepenggal malam ini, sampai tadi obrolan kami berakhir di jam dua dinihari.

Kultur.

Dalam sebuah rapat mini, ya karena pesertanya cuma dikit. Beberapa hari yg lalu, membahas kegiatan di kantor yg bisa dibilang di ujung tanduk, deadline.

Big boss, setelah menekankan itu ini, begini begitu, ujug-ujug mengaitkannya dengam sedikit ancaman terkait jabatan, mutasi jika acara tak sukses.

Juga, ujug-ujug menyarankan saya mikirin jenjang karir, nyuruh saya bikin target, nanti harus jadi gini, kelak harusnya bisa jadi gitu.

Sayangnya, saya hidup di lingkungan dengan kultur yang tak mengajarkan tentang ambisi. Kebanyakan ngajarin untuk memperhatikan batas antara hak & kewajiban dalam bekerja. Ngajarin kesederhanaan. Ngajarin idealisme, bahwa berusaha bekerja sebaik mungkin. Soal jenjang anak tangga menuju tingkatan yg makin menanjak, kalaupun bisa sampai, itu adalah bonus.

Saya lebih memikirkan tentang survival. Berusaha bertahan dari arus hidup yang semakin tak terduga. Belajar mempelajari arus untuk sesekali menentangnya saat membuat larut terlalu jauh dari jalur.

Guru-guru kehidupan saya rasanya tiada yg ngajarin untuk memplot masa depan, untuk berusaha mengejarnya sekuatnya. Yg ada adalah ajaran untuk bertahan sebisanya.

Jikalau sudah berusaha sudah tak mungkin, sesekali mundur beberapa langkah juga tak mengapa. Yg penting hidup bisa terus berjalan, dan napas bisa masih terasa lega saat dihirup.

Itu saja.

intro.

kemarin malam, berlanjut sampai dinihari, hal yang teramat jarang saya lakukan akhir-akhir ini.  jadwal biasanya:pulang kantor jam setengah lima, sampai rumah mentok jam enaman sore.  palingan malem kalo iseng sehabis magrib muter-muter keliling kota naik motor, kadang sembari nyari makan, seringnya cuma mampir alpamart atas permintaan si bungsu.  lepas jam 10 malem, paling lama jam sebelas, semua penghuni rumah akhirnya lelap.  bangun pagi. sampai sore lagi. repeat. gitu aja puteran waktu.

tapi kemarin malam.  saya lagi berusaha menahan kantuk.  ingin kembali mikirin apa aja sampai kira-kira jam dua dinihari.  baca tempo edisi dua tahun yang lalu.  membuka sedikit Bila-nya bubin.  Lalu tau-tau, membuka kotak sepatu berisi koleksi surat-surat saya dengan honey belasan tahun silam.

Tak seperti biasa. Kali itu saya membaca-baca tulisan tangan saya, yang rasanya lama tak saya lakukan.  Betapa ternyata saya itu absurdnya memang sejak lampau haha.  Nulis surat seakan-akan penerima surat sedang berada di hadapan saya, ngobrol kesana kemari.  Kadang diselingin lirik lagu, dan diakhiri celetukan-celetukan ajaib berupa tulisan.

Saya jadi membayangkan, keadaan saya dulu saat menulis surat itu.  Soalnya saya lumayan detil menceritakan tempat dan keadaan saat nulis, sampai jam dan menit pun sering saya cantumkan.  Dan tentu, membaca kembali ingatan-ingatan yang beberapa detilnya saya sudah samar.

nanti lain waktu, pasti ritual itu akan kembali saya jalankan.

hobi.

saya pikir.  banyak orang yang hobi terhadap sesatu, cenderung melihat kualitas sesuatu hanya dari range harga dan kondisi baru/tidaknya.  lupa akan fungsi utamanya.

padahal tujuan hobi adalah kenyamanan.  masalahnya, nyatanya, sesuatu terkait hobi itu memang biasanya semakin mahal semakin bagus,  semakin baru edisinya, fitur-fiturnya makin bagus.

tapi sekali lagi, intinya adalah pada fungsi.  sama halnya akan fungsi otak *halagh malah mbeleber kemana-mana*

dinihari.

lama rasanya tak menulis jam segini. di saat sunyi, orang-orang sedang terlelap.  pikiran pun antara ingin diam dan berkeliaran.  sementara rencana jauh nanti pagi sepertinya ditunda saja. tapi entahlah, liat nanti pagi.

saya cuma mau introspeksi sedikit saja. ngaca. bahwa saya bukan apa-apa. sejak kapan pun memang begitu.  merasa bukan apa-apa, bukan siapa-siapa itu membuat saya bebas bergerak.

jadi pengamat, tanpa mengeluarkan komentar apa-apa. -itu saya sewaktu masa sekolah-  rasanya sangat menyenangkan.

ahsudahlah.  postingan macam apa ini.  yang penting posting lagi.  toh siapa juga yang baca tulisan ajaib seperti ini.

shut up.

rasanya. akhir-akhir ini saya kebanyakan ngomong.  banyak ngomong hal-hal yang tak berfaedah. saya ingin menguranginya, niat yang terbentuk entah sejak kapan.  tapi tetap saja, mulut saya susah untuk dikontrol. literally maupun laterally.

rasanya saatnya sesekali, atau malah lebih sering lagi menyepi lagi dari segala hirukpikuk ini.  masalahnya, seringkali pula saya malas kemana-mana.  lebih nyaman berada di rumah rasanya.

apapun. prioritas sekarang adalah lebih banyak menutup mulut. dimana pun. sebisanya. terkecuali, mungkin menuliskannya disini. mungkin.

diblok.

beberapa waktu yang lalu, saya berkomentar di fb seorang kawan, tapi setelah baca ulang, rasanya ada yang kurang sreg, komen itupun saya hapus.

tak berapa lama, kawan saya tersebut, membuat status kalau merasa aneh bahwa kadang ada notif komentar tapi tiada pas mau dibuka.  Saya pun ngerasa (mungkin) itu komentar saya barusan, jadi saja saya kasih reply bahwa “tadi saya komen, lalu saya hapus lagi”.

kemudian berlanjut, balesan beliau yang intinya : “ngapain komen sendiri dihapus, mending kan ga komen” ,
saya reply lagi : “lha ya komen2 saya, yg ngehapus jg saya, bebas dong..”

lalu gara-gara obrolan yang menurut saya ga penting-penting amat, dan saya juga tak punya tendensi apa-apa terhadap hal itu, berlanjut dengan pemblokiran semua akun sosmed saya, yang baru ketahui belakangan.

ya tidak masalah juga sih.  lagian saya ini siapa juga.  cuma bingung saja, itu kawan lama, dan rasanya tak pernah punya masalah apa-apa, masa hanya gara-gara komentar yang tak jelas juntrungannya, lalu pertemanan terhalang dinding yang bernama ‘blok’.

saya hidupnya nothing to loose, saja, mau berkawan atau bermusuhan dengan saya, di dunia internet maupun di dunia nyata ya tak ada masalah.  tak pernah keberatan.  tiada ruginya juga buat siapa-siapa.

saya cuma bingung.
itu saja.

posting lagi

terakhir posting disini tanggal 21 Juni.
entah kenapa kemarin ada yang error, username yang berubah dengan sendirinya, saat paswot dirubah, bisa sebentar dibuka lalu error lagi, lebih parahnya saya ga bisa masuk cPanel.  Entah ada apa dengan hosting ini, yang juga terasa sekarang saat dibuka loadingnya lumayan lama.

padahal cuma mau misuh sebentar, kalau tempat kerja suasananya sedang ga asik, jadi pengen cepat-cepat pindah rasanya.  banyak orang yang kerja cuma gara-gara mandang duitnya doang, padahal itu duit siapa untuk siapa buat apa juga.

sudah begitu saja.