kala pengumuman hasil uts thor

kemarin dari undangan, dari sekolahnya kak Thor, untuk menghadiri pengumuman hasil UTS.  Tapi aku entah kenapa merasa ada sesuatu, ada hal lain dari sekedar pengumuman hasil uts.

Sesampai di sekolahnya, tepat pukul sembilan pagi sesuai undangan, ngisi daftar kehadiran, dikasih dua potong kue dan es buah.

Kemudian pertemuan diawali dengan pembacaan shalawat yang diiringi keyboard oleh seorang guru, kemudian pidato dari salah seorang siswi yang juga pinter mengaji.  Kemudian masuk ke sambutan-sambutan.

Dan kecurigaanku terbukti.  Ada ‘sisipan’ pesan sponsor untuk tambahan dana demi program tambahan entah apalagi lah itu.

Pas pembacaan uraian oleh bapak bendahara (tampaknya), beliau pun tanpa peduli berbicara dengan bahasa Jawa Kromo.. :|

Kata beliau yang terdengar di telingaku :
” Jadi.. bla hs bgw&^ sgH(*&..>?/. Kulo .bgftrs. njih…..”
hanya ada beberapa patah kata yang ku mengerti, antara lain : “pendanaan” & “dua ratus ribu per semester” yang lantang diucapkan dalam bahasa Indonesia.. :|
Intinya, semua wali murid setuju dengan keputusan 200 rb/ semester itu.

Terakhir, pembagian hasil UTS, semua wali murid berpencar mencari wali kelas anaknya masing-masing.  Aku bingung, lalu bertanya pada salah satu pak guru.

“Pak, kelas 2 F sebelah mana ya?”
“Eh, kelas 2 cuma sampai E kok, pak”
“Eh? Nganu, kalo gitu keras 2 E deh pak, yang mana ?”

….

kala pengumuman hasil uts thor

pengetahuan baiknya menemani semangat

..pagi tadi, sepulang mengantar kaka’ dari sekolahnya, di tengah jalan berpapasan dengan pelajar yang membawa sepedanya dengan cepat, alias ngebut.

Tampaknya sudah menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini, suka memperhatikan orang-orang yang bersepeda di jalan, cara mereka mengayuh (pedalling), melihat posisi sadel sampai kalau lagi iseng memperhatikan kondisi part yang terpasang di sepedanya.  Ujung-ujungnya biasa gatel, sok tahu pengen ngasih tahu -paling tidak memberi tahu posisi pedal yang enak- biar enak pula sepedaannya.

Nah, pelajar tadi, sekilas aku perhatikan ngebut sambil mengambil posisi dancing, itu artinya mengayuh sepeda sambil berdiri di atas pedal.  Cepat memang, more powerful, tapi tentu saja menguras banyak tenaga.  Sangat tidak efisien.  Apalagi posisi sadelnya terlalu rendah, seting yang umum dilakukan dengan alasan kebanyakan: biar kaki bisa nyentuh tanah.  Padahal posisi sadel yang demikian membuat otot dengkul dan paha cepat lelah dan pegal yang lumayan jika dilakukan dalam jarak yang cukup jauh.

Satu hal lagi adalah rantai yang terpasang terlihat kendor sekali, lumayan berbahaya jika slip, apalagi anak itu tadi hanya menggunakan single gear, yang artinya tidak ada opsi lain selain memaksimalkan tenaganya di jalan dengan rasio gear yang ada.

Di satu sisi, aku kagum dengan semangatnya, memacu sepedanya dengan kecepatan penuh ke sekolah.  Tapi di sisi lain aku juga kasihan, kalau terus-terusan badannya dipaksa bersepeda seperti itu.  Kasian kakinya, badannya yang akan lebih lelah daripada seharusnya.  Ntar kalau keburu cape sesampai sekolah piye dab?

Ah, aku terlalu banyak berpikir rupanya.  Toh anak itu juga tidak tahu diam-diam saya memperhatikan kondisi sepedanya :D

Intinya sih ya, supaya sama-sama jalan.  Semangat terus menyala, ilmu juga harus dicari, agar dua-duanya bisa jalan, saling mendampingi dan saling melengkapi.  Mungkin contoh sederhananya kala mau melewati tanjakan, tanpa tahu bagaimana cara baiknya, bukannya sampai dengan nyaman, bisa-bisa cidera yang didapat.

Begitulah, wahai diriku.

pengetahuan baiknya menemani semangat

feel free to steal

I just read Thomas Andersen’s blog, blog that tells bunch of stories around his trip around the world.  So far he has visited 28 countries, over 30.000 km, with his bicycle, what a man !

In his post while in Bandung, I found something interesting.  Someone asked for his permission to have the photos in that post. He answered with words that I use as a title in this post: Feel free to steal. I think he’s really cool. He allows his friend to take his photos for free.

I think, only a few people with a great heart, can be like that.  They don’t mind letting other people to use their property for free. They only want to share.

However, you should read his great blog, and perhaps got envy like me when seeing his biking adventure.

.

.

.

*some parts in this post has fixed by  Kimi  as editor).

 

feel free to steal

anak SD bahkan lebih cerdas dariku

.. kemarin saat berada di sudut utara kalimantan barat itu, aku sempat-sempatnya membantu memperbaiki rem sepedanya anak empunya penginapan yang masih siswa sekolah dasar.  Aku kagum juga dengan semangatnya bersepeda ke sekolah setiap hari , (sepeda yang dipakainya lumayan bagus sih, pikirku: mungkin hadiah ulang tahun atau kenaikan kelas) sementara bapaknya padahal masih punya mobil bagus, yang cuma digunakan untuk mengantar jemput adiknya, yang juga sama-sama esde :D

kata bapaknya : “justru dia itu sebenarnya dibelikan dan diminta bersepeda karena dihukum..”

entahlah dihukum karena apa aku lupa, yang jelas aku mendadak ngiri, dihukum kok malah dibelikan sepeda :|

syukurlah remnya bisa diperbaiki, kebayang itu dua pasang rem rusaknya lumayan.  Karena ketersediaan part yang terbatas, yang bisa diperbaiki pun cuma v-break belakang.  Sepertinya anak itu bekerja keras menggowes ke sekolahnya, karena aku tahu kontur tanjakan medan menuju sekolahnya lumayan juga untuk dilewati dengan sepeda ukuran kecil seperti itu.

Hal yang menarik dari sepedanya adalah sadelnya sudah diseting pada posisi yang benar.  Aku pun bertanya siapa yang yang melakukan pengaturan sadelnya.  Bapaknya menjawab :  “dia memang suka menaik turukan pedalnya sendiri..”

Menarik sekali, betapa anak kecil itu bisa secara alami merasakan posisi duduknya yang tidak enak, kemudian mengaturnya sendiri sehingga sepedanya enak untuk dikendarai.  Anak itu cerdas sekali sungguh.  Aku yakin lama-lama dia bisa mengganti semua part sepeda yang dianggap bermasalah, tinggal waktu saja :D

Tak seperti saya, saat awal bersepeda (kembali).   Saya cuma bisa merasa kalau sepeda yang saya naiki tidak enak, terasa berat kala di tanjakan.  Tapi cuma bisa bingung daripada mencaritahu penyebabnya.

Anak itu tahu cara pemecahan masalahnya sendiri, saya seringkali tidak.  Kesimpulan paling gampang: anak itu jauh lebih cerdas dari saya dalam hal problem solving.  Shame on myself..

Aku juga diam-diam harus belajar dari anak itu tampaknya.
Menyenangkan sekali diam-diam dapet guru jauh-jauh di pedalaman kalimantan euy :D

anak SD bahkan lebih cerdas dariku

uphill soundtrack

..adakalanya, sesekali mendengarkan musik sambil bersepeda, dan menurutku lagu Reo Speedwagon itu, sangatlah pas didengarkan saat menanjak, terlebih tanjakan yang menguras energi dan segala-galanya.  Aku menyadarinya saat nanjak ke Karang pandan bersama mas Radith dan Revo beberapa waktu yang lalu.

mungkin tak sekedar musik kala menanjak, tapi ini lebih seperti soundtrack of my life..

And I can’t fight this feeling anymore.  I’ve forgotten what I started fighting for
It’s time to bring this ship into the shore and throw away the oars, forever

Pernah mendengarkannya?

uphill soundtrack

apa sih (maunya) bloger?

ya aku lebih suka nulis bloger, daripada blogger yang sepertinya notabene similar dengan blogspot, bloger menurutku adalah empunya blog.  Jadi siapapun yang memiliki blog otomatis seorang bloger.

Blog mengalami kejayaannya mungkin sekitar tahun 2007, dimana saat itu media sosial belumlah seramai sekarang.  Saat itu pun kebanyakan orang-orang ngeblog di wordpress atau blogspot.  Sangat jarang yang punya domain sendiri, selain rada ribet soal maintenance, soal biaya beli domain dan hosting pun rasanya lumayan asoy.  Terlebih tampaknya saat itu yang rajin bikin tulisan di blog statusnya masih mahasiswa-mahasiswi (kere).

Sekarang sih, bloger yang masih eksis, dan ngetop, dan banyak yang dianggap seleb, tampaknya sudah banyak yang mapan.  Dan punya domain sendiri pun bukanlah hal yang mewah lagi.  Ya walaupun yang rajin update masih beberapa, dan beberapa pula yang rajin posting karena memang suka nulis tanpa tendensi apa-apa selain urusan kesenangan.

Dulu, mungkin ngeblog adalah sesuatu yang wah.  Yang ahay! Saking ngetopnya makhluk bernama blog itu, sampai-sampai pernah konon diadakan pelatihan menulis blog, superb sekali.

Sekarang?  Berani-beraninya situs yang sekali posting cuma terbatas 140 huruf, disebut sebagai mikroblog.  Sampai-sampai muncul turunannya semacam fiksimini. Semuanya serba singkat, dan terlihat menyenangkan karena respon yang datang pun singkat dan banyak.  Mencari pengikut pun mudah dan gampang, misalnya tinggal bikin sensasi semacam janji bugil di sebuah supermarket, maka yang penasaran dan jadi pengikut pun bertambah.

Beda dulu itu, pengikut blog bisa dihitung dengan hari, sampai sekarang pun demikian sih :mrgreen:  Perlu waktu untuk menuliskan isi, perlu waktu pula untuk direspon orang lain.

Tapi itu tak masalah.  blog menurutku tetaplah fungsinya sebagai media, untuk menuliskan apa saja, yang dianggap bisa ditulis dan dianggap keren untuk dipublish.  Walaupun jarang yang ngasih komentar, tak mengapa juga.  Justru itu menjadikan siapapun yang berkunjung di postingan layaknya tamu terhormat yang rela jauh-jauh datang berkunjung.  Sangat terhormat sekali rasanya.

Jadi kesimpulanku.
Ngeblog itu adalah karena memang ingin nulis blog,
sesingkat itu memang :D

apa sih (maunya) bloger?

mempermasalahkan (asal) menteri

Sepertinya, ada yang sok pintar, sok bisa menganalisis, akan pilihan seseorang, bahkan pilihan seorang presiden akan menteri-menterinya.  Terkadang dari sisi yang agak aneh di mataku.  Terlebih nadanya lebih mengarah minor, fals pula.

Terakhir aku tengok, ada paling tidak dua orang malah mempertanyakan asal menteri.  Lebih tepatnya kecewa karena tidak ada menteri dari pulau kalimantan. Aku pikir sih memangnya harus ada perwakilan menteri dari tiap pulau begitu?  Toh mereka semua berasal dari negeri yang indah ini :)

Pemilihan sosok seseorang tentu tak cuma berdasarkan dari asalnya, tapi dari jejak rekam seseorang.  Aku saja barusan mencari latar belakang beberapa menteri, dan rasanya tiada yang salah.  Mereka semua orang-orang hebat.

Sudahlah, liat saja bagaimana mereka bekerja nantinya, dan jangan pernah berharap kesempurnaan pada diri seseorang selama masih ada cermin untuk berkaca.  Dan seperti salah seorang kawan, terhadap kinerja yang kurang bagus: kritik lah, bukan cuma bisa nyinyir saja.  Paling tidak berusahalah belajar dari mereka, bagaimana menjalani hidupnya sampai di titik ini.

Turut ngucapin disini ah, untuk semua menteri terpilih, selamat bekerja, semoga bisa membantu pak Jokowi membuat negeri ini lebih baik dan lebih keren \m/

mempermasalahkan (asal) menteri

ke jurang Merapi demi melihat mata air Bebeng

beberapa hari yang lalu, mas Saktya dan mba Rizka mengutarakan (kok utara bukan selatan ya?) rencana mereka untuk sepedaan ke arah Bebeng (yang saya tahu belakangan kalau tempat itu juga biasa disebut Klangon oleh para penggemar downhill) untuk melihat mata air Bebeng yang sempat terkubur erupsi merapi dulu, berhasil dihidupkan kembali.

Paling tidak ada dua hal yang menarik dari ajakan itu.
yang pertama saya belum pernah mencoba rute tersebut, dan saya pikir tanjakan kesitu pasti menarik (dan edyan!), soalnya teman-teman saya yang biasa kesitu untuk donhilan mesti loading alias numpang mobil pick up untuk sampai ke titik itu.  Yang kedua adalah ikutnya tokoh misterius yang blog rapinya sering saya sambangi, yaitu mas wijna, owner blog maw mblusuk.

Membaca postingan-postingan disitu, sudah tak aneh kalau rute yang dipakai beliau sepedaan,  mesti aneh, angel, apalagi tokoh utama satunya, om Bayu yang kondang disebut simbah gundul juga ikut, juga tokoh lainnya yang sering muncul: pakdhe timin.  Itu sungguh menarik, petualangan sepedaan mereka yang dikenal dengan tim pekok tak pernah sesuai standar normal :D.

Saat mau berangkat di hari sabtu pagi yang tanggal merah kemarin, ada kejutan lainnya.  Mas Radith, pemilik blog denmasbrindhil yang keren itu juga ikutan pula.  Wah, tim turing ngepit sak tekane bersatu kembali !

Delapan orang yang berangkat, dari Janti, ke arah Kalasan, rute yang belum saya pernah jalani sebelumnya.  Tanjakannya asik, sedikit-sedikit tapi panjangnya juga bukan kepalang :|  Makin asik lagi, ternyata salah rutenya memasuki jalan (sangat) rusak yang penuh debu tebal karena tampaknya sering dilewati truk pengangkut pasir, saking parahnya jalan, sampai-sampai beberapa orang terpaksa bersepeda lewat got yang cukup lebar, oh my got!

#JAlan
Belum cukup dihajar jalan rusak, jalan menuju klangon tanjakannya tak kira-kira, berlapis tak habis-habis juga.  Untunglah memakai sepatu cleat yang membuat kayuhan lebih ringan hingga tak perlu pakai ritual ttb (tuntun-tuntun bike) :D  Itu pun baru sampai di parkiran Klangon pada jam 2 siang menjelang sore :|

Setelah semua anggota tim lengkap.  Dilanjutkan bersepeda nanjak dikit sampai ke dekat tepi hutan.  Lalu berjalan menuruni jurang yang lumayan dalam demi melihat mata air Bebeng yang letaknya ada di dasar.

Jurang yang ada dekat sekali dengan puncak Merapi ini sangat keren, sayang saya tak punya kamera yang cukup baik untuk mengabadikannya.  Setelah mencari beberapa menit, akhirnya mata air Bebeng pun terlihat ditengah-tengah, berwujud sumur.

#Bebeng
Sejarah mata air Bebeng ini sungguh menarik, karena ternyata sebenarnya pembangunannya sudah dimulai sejak tahun 1965, hasil kerjasama Pemda Sleman, Universitas Gadjah Mada dengan World University Service (WUS).   Peresmiannya sendiri baru terlaksana pada tahun 1973.  Dokumen lengkap tentang sejarah mata air ini bisa di download di arsip UGM itu.

Setelah tertutup material erupsi Merapi tahun 2010, akhirnya mata air tersebut bisa dinormalisasi kembali, mungkin sekitar Agustus 2014 barusan.

Tak terasa jam empat sore, sementara banyak yang tak mempersiapkan sepedanya dengan lampu, karena tak mengira perjalanan bisa sampai sesore itu.  Perjalanan pulang relatif lebih mudah walaupun memerlukan kehati-hatian yang lebih karena turunannnya lumayan tajam dan bikin hati kebat kebit.  Apalagi ban yang digunakan tidak disiapkan untuk turunan di jalan yang tak cukup mulus.

Hari beranjak gelap, sempat mampir untuk ashar dan maghrib di jalan.  Sementara mas wijna malah bablas duluan di depan tak tahu kabarnya.  Nantilah kita tunggu di postingan di blognya tentang perjalanan ini :D

Tapi untunglah, walaupun harus bersepeda dalam gelap, bisa sampai di jalan raya Solo tepat jam tujuh malam.  Anggota tim lainnya berpencar menuju pulang.  Saya, mas Radith dan om Bayu mampir sejenak di bakmi Jawa di sisi barat jembatan layang Janti yang enak tenan.  Kelar dinner, pulang, sampai rumah lepas sepatu, lalu terkapar :|

ke jurang Merapi demi melihat mata air Bebeng

pembunuh berdarah dingin bernama mangunan

Mangunan itu, nama daerah yang terkenal dengan tanjakannya.  Sebenarnya sudah pernah saya tulis singkat disitu.  Tapi tulisan kemarin sedikit terdistraksi dengan Farah Quinn #halagh.

Tanjakan-tanjakan di Jogja itu mungkin bisa saya klasifikasikan menjadi : agak ringan, bikin mikir, dan jahanam.  Nah mangunan ini boleh dimasukan dalam kategori ketiga.

Seperti pemburu berdarah dingin layaknya, yang suka membunuh korbannya pelan-pelan. tak kentara dan dengan tipuan (kok malah jadi seperti pesulap sih).  Jadi, tanjakan yang akan ditemui disitu terlihat biasa dan bisa dilewati dengan mudah, terlihat bersahabat.  Tapi yang ada adalah, tanjakan yang seakan-akan berlapis.

Melihat puncak tanjakan pertama, rasanya lega.  Tapi sesampainya puncak tanjakan, masih ada tanjakan lagi, begitu terus, terus dan panjang seakan tak henti-henti.  Padahal panjang jalannya, dihitung dari pertigaan Imogiri mungkin cuma sekitar tujuh kilometer, yang biasanya saya akhiri dengan memutar di kebun buah mangunan.

Sisi bagusnya, melintasi tanjakan di mangunan itu asik untuk melatih kesabaran dan kewaspadaan.  Terutama untuk shifting.  Walaupun nyatanya saya lebih sering memilih gigi paling rendah demi amannya hehe.

Jadi bagi yang ingin mencoba sensasi dibunuh jalanan pelan-pelan, mangunan sangat saya rekomendasikan.  Kalau masih kurang sensasinya, cobalah kesana agak siangan sedikit.  Insya Allah jadi tambah ilmu bagaimana caranya mengirit air minum dan menanggulangi dehidrasi.  Panasnya bro, lumayan :mrgreen:

pembunuh berdarah dingin bernama mangunan

jangan rese kala menunggu panggilan

..pak RW, tiba-tiba saja datang tanpa terdeteksi.  Maksudnya datang kembali dari tanah suci, bersama istri.  Soalnya tidak seperti kebiasaan di kampung saya, kepulangan haji biasanya disambut keluarga & tetangga dengan haru.  Tapi beliau rupanya tidak .

Tadi malam, akhirnya sowan ke rumah beliau, setelah melihat tetangga silih berganti datang mengucapkan selamat datang kembali pada beliau.  Saya pun bertamu bersama satu kawan kos, mendengarkan cerita saat di Mekkah, yang saya simpulkan banyak diberi kemudahan selama disitu.  Alhamdulillah.

Di sela-sela cerita-cerita.  Saya malah asik membuat sub cerita dengan kawan saya itu.  Tentang bagaimana antrian naik haji yang sekarang sudah mencapai belasan tahun  (antrian yang memanjang ini saya duga akibat munculnya sistem dana talangan haji, yang memudahkan untuk orang mendaftar haji dengan cara mencicil).

Sedikit terselip nada khawatir akan lamanya panggilan ke tanah suci.

Ibadah haji ini memang unik, tak seperti ke empat rukun islam lainnya.  Satu-satunya yang menambahkan syarat di ujungnya: jika mampu.  Dan seringkali orang menyebutnya panggilan, jiwa dan fisik kita baru akan sampai kesitu jika sudah dipanggil-Nya.  Mungkin itu juga yang seringkali menyebabkan orang-orang yang berangkat kesana seperti sudah siap sedia untuk dipanggilnya meninggalkan dunia ini.

Kata ‘dipanggil’ ini menurut saya sih simpel sekali.
Ibarat melamar sebuah pekerjaan, yang sangat diinginkan.  Tentunya memerlukan tahap lamaran, verifikasi, segala macam tes tertulis, psikotes, interview dan segala macam syarat lainnya, kemudian kita pun harus sabar menunggu panggilan datang.  Dan kemungkinan lamaran ditolak pun pasti ada, karena syarat yang dianggap kurang mencukupi.

Karena ini adalah ibadah puncak dari kelima mata rantai rukun Islam.  Anggaplah ke empat rukun sebelumnya adalah syarat, ditambah dengan enam rukun iman yang harus dipegang.  Setelah itu, tinggal menunggu saja.

Masalah waktu disini menjadi anomali, absurd atau apalah, yang jelas sangat tidak terikat dengan aturan dunia.

Kalau secara wajar tinggal mendaftar haji, menunggu antrian, kemudian menunggu waktu keberangkatan, itu cara yang biasa, dan dilakukan oleh orang yang mampu, secara finansial dan fisik.

Tapi nyatanya, tidak terbilang orang yang bisa beribadah haji, melampaui semua aturan dunia.  Mungkin jika pernah menonton sinetron Tukang Bubur Naik Haji, itu salah satunya, karena saya tahu itu diangkat dari cerita nyata.  Rasanya tidak logis, hasil tabungannya berjualan bubur, bisa memberangkatkan keluarganya sekaligus.  Tapi niat tulusnya untuk meluluskan niat ibadah ibu beliau, merobek tatanan logika dunia.

Ini tentang ibadah, tak cuma soal daftar pelesiran dan sekedar menunaikan kewajiban.  Tapi ujian yang sejak lama saya anggap sangat mengerikan, karena konon semua dosa bakal diperlihatkan dan dibalas langsung saat disana.  Saya yang sadar diri kebanyakan dosa ini apa tidak merinding jadinya :|

Makanya seringkali saya suka bingung, dengan kebingungan orang akan pertanyaan : kapan ya saya dipanggil kesana?

Yang namanya dipanggil tentu jawabannya hanya satu : menunggu.

Hanya, bagaimana waktu panggilan itu bisa dipersingkat dan menerbitkan senyum bahagia, itu yang hanya sebagian kecil orang tahu caranya.  Mungkin sebagian kecil orang tidak tahu karena bertanya waktu pada manusia, bukan pada-Nya.

Itu saja kok, sesimpel itu.
Menurut saya :)

jangan rese kala menunggu panggilan